Makalah Kecerdasan Ganda


PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 

Kenyataan menunjukkan bahwa program pendidikan yang berlangsung saat ini lebih banyak dilaksanakan dengan cara membuat generalisasi terhadap potensi dan kemampuan siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman pendidik tentang karakteristik individu. Muncul keluhan dari pendidik atau guru bahwa mereka merasa bahwa menjelakan sejelas jelasnya tetapi ada saja anak didik yang tidak dapat memhami pelajaran dengan baik. Setiap kali orang belajar pasti melibatkan pikirannya dan didalam pikiran tersebut ada kecerdasan. Salah satu temuan yang sangat bermanfaat adalah bahwa setiap individu memiliki tidak hanya memiliki satu kecerdasan tetapi lebih yaitu disebut juga multiple intelligences atau kecerdasan ganda.
Teori kecerdasan ganda adalah model yang sangat tepat baik untuk melihat kekuatan mengajar maupun utnuk mempelajari wilayah-wilayah yang perlu diperbaiki. Mungkin guru menghindar jika harus menggambar dipapan tulis atau enggan menggunakan bahan-bahan yang sangat grafis dalam presentasi karena kecerdasan spesialnya belum cukup dikembangkan dalam kehidupan. Mungkin juga guru cenderung pada srategi belajar kelompok atau kegiatan ekologis karena ia sendiri adalah jenis guru yang interpersonal atau naturalis. Untuk tujuan itu, guru harus mengetahui sumber daya kecerdasan ganda. Hal ini sangat penting bagi proses pembelajaran dan pengembangan kepribadian peserta didik. 

Kadang-kadang ada laporan tentang orang dengan bakat kreatif yang tinggi sedangkan tingkat kecerdasannya rendah dan telah diketahui bahwa tidak dengan semua orang dengan kecerdasan tinggi merupakan pencipta. Sebagai contoh banyak anak pandai mencapai keberhasilan akademis tetapi hanya sedikit yang menunjukkan cara berpikir kreatif yang tidak sekedar “ memberikan yang diinginkan guru”. Apakah kecerdasan dan kreativitas tinggi akan berjalan seiring, sebaian besar bergantung pada faktor diluar kretivitas dan kecerdasan. Faktor dalam lingkungan atau dalam diri seseorang sering mengganggu perkembangan kreativitas. 

Akan tetapi terdapat hubungan positif antara kecerdasan dan kreativitas. Bila tidak ada hambatan yang mengganggu perkembangan kreativitas cukup aman untuk mengatakan bahwa semakin cerdas anak semakin dapat ia menjadi kreatif sebaliknya, dapat dipersoalkan apakah anak dengan kecedasan sangat rendah dapat menjadi lebih kreatif sekalipun dalam lingkungan yang sangat menguntungkan. 


B. Rumusan Masalah 

a. Apakah yang disebut dengan kecerdasan ganda ? 

b. Apa sajakah jenis-jenis dari kecerdasan ganda ? 

c. Bagaimana sumber daya kecerdasan ganda ? 

d. Bagaimana mengembangkan kecerdasan ganda ? 

e. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan ganda ? 

f. Bagaimana perkembangan kreativitas ? 

g. Bagaimana karateristik peserta didik yang kreatif ? 

h. Apa sajakah tahap-tahap pengembangan kreativitas ? 

i. Bagaimana hubungan kreativitas-inteligensi ? 

C. Tujuan 

a. Menjelaskan tentang kecerdasan ganda 

b. Mengetahui jenis-jenis kecerdasan ganda 

c. Memahami sumber daya kecerdasan ganda 

d. Memahami pengembangan kecerdasan ganda 

e. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan ganda 

f. mengetahui tentang perkembangan kreativitas 

g. mengetahui karateristik peserta didik yang kreatif 

h. mengetahui tahap-tahap pengembangan kreativitas 

i. memahami hubungan kreativitas-inteligensi 



PEMBAHASAN 


A. Kecerdasan Ganda 

Istilah kecerdasan atau intelegensi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita sebagai pendidik. Namun sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu tentang kecerdasanpun berkembang. Setiap individu tidak hanya memiliki satu kecerdasan tetapi lebih yaitu disebut juga multiple intelligences atau kecerdasan ganda. 

Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu dipahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal. 

Menilai profil atau tingkat kecerdasan seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi kecerdasan gandanya. Hingga kini tidak ada tes yang dapat menilai sifat atau kualitas kecerdasan orang dengan benar-benar akurat. Tes-tes standar hanya mengukur sebagian kecil dari keseluruhan spktrum kemampuan manusia. Karenanya, cara terbaik menilai kecerdasan ganda seseorang atau bahkan diri sendiri adalah melalui penilaian kinerja secara realistis pada berbagai macam tugas, kegiatan, dan pengalaman yang berkaitan dengan setiap kecerdasan. Alih-alih mengerjakan tugas-tugas belajar artifisial, lihatlah pengalaman hidup sehari-hari yang pernah dialami dalam kaitannya dengan multi kecerdasan itu. 

Bagi Gardner, sejak dulu manusia sudah memiliki kecerdasan ganda. Manusia memiliki beragam kecerdasan dengan beberapa kombinasi tonjolannya. Beragam kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang itulah yang membuat manusia senantiasa berbeda satu sama lain. Pemikiran Gardner tentang kecerdasan ganda memiliki dampak terbesar pada pendidikan. Menurut Gardner, manusia itu memiliki banyak jenis kecerdasan yang berbeda: linguistic, musical, spasial, logis-matematis, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, dan lingkungan. Teorinya ini merupakan pengembangan teori yang dikembangkannya sebelumnya. 

Kehadiran teori kecerdasan ganda, karenanya, menjadi bagian integral dari usaha Gardner untuk memperluas lingkup potensi manusia melampauai batas nilai IQ. Gardner secara sangat serius mempertanyakan akan keabsahan penilaian kecerdasan individu melalui tes-tes yang dilakukan diluar lingkungan belajar alamiah. Dia juga menggugat penilaian kecerdasan yang dilakukan dengan meminta seseorang melakukan tindakan terisolasi yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Kecerdasan itu berkaitan dengan kapasitas untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk dilingkungan yang kondusif dan alamiah. 

Pendapat ini menggariskan bahwa potensi dasar manusia harus dipersepsi dari dimensi dinamisnya ketimbang dimensi statisnya. Bukan sebatas berapa tingkat kecerdasan yang diperlukan untuk menyelesaiakan sebuah soal matematika yang rumit, melainkan bagaimana dia memanfaatkan potensi diri dan hal-hal diluar dirinya untuk memecahkan soal itu. Jika cakrawala berpikir yang lebih luas dan lebih prakmatis ini diterima, konsep kecerdasan tidak lagi menjadi mitos, melainkan menjelmah sebagai sebuah fungsi kemampuan dasar yang dapat ditemui dalam lingkup kemampuan manusia sebagai “kecerdasan dasar”. 

B. Jenis-jenis Kecerdasan 

1. Kecerdasan matematika-logika 

Kecerdasan matematika-logika memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis dan mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Peserta didik ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki. 

Ciri-cirinya: senang bekerja dengan angka dan dapat melakukan perhitungan mental (mencongak), senang menyiapkan jadwal perjalanan secara terperinci, senang dengan permainan, puzzle atau sesuatu yang membutuhkan kemampuan berpikir logis dan statistis seperti permainan cheker atau catur. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan ini bermanfaat untuk: menganalisa laporan keuangan, memahami perhitungan utang nasional, atau mencerna laporan sebuah penelitian. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini antara lain: akuntan pajak, programmer, ahli matematika, ilmuwan, dsb. 

2. Kecerdasan bahasa 

Kecerdasan bahasa memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Peserta didik seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, peserta didik ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik lainnya. 


Ciri-cirinya: Senang bermain dengan kata-kata, menikmati membaca, diskusi dan menulis, suka membumbui percakapan dengan hal-hal menarik yang baru saja Ia baca atau dengar, suka mengerjakan teka-teki silang,bermain scrable atau bermain puzzle. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan linguistic bermanfaat untuk: berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Pekerjaan yang mengutamakan kecerdasan ini antara lain: guru, orator, bintang film, presenter TV, pengacara, penulis, dsb. 

3. Keruangan 

Kemampuan individu dalam mempersepsikan dunia keruangan-visual secara akurat, misalnya, sebagaipemburu, tebak-lokasi, pewisata alam, pemandu. Kemampuan individu dalam mentransformasikan persepsi dunia keruangan-visual tersebut , misalnya, decorator interior, arsitek, desainer luar ruangan, seni ukir. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar unsure tersebut. Kecerdasan ini juga meeliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau keruangan, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matriks keruangan yang tersedia. 

Ciri-cirinya: menyukai seni, menikmati lukisan dan patung. Memilki cita rasa yang baik akan warna, cenderung menyukai pencatatan secara visual dengan menggunakan kamera atau handycam. Kita membutuhkan kecerdasan ini dalam hidup sehari-hari juga, misalnya: saat menghias rumah atau merancang taman, menggambar atau melukis, menikmati karya seni, dsb.Pekerjaan yang cocok untuk tipe kecerdasan ini adalah arsitek, fotografer, desainer, pilot, atau insinyur. 

4. Kinestetik- jasmani 

Kecerdasan kinestetik ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan. Orang tipe ini mampu mengekspresikan gagasan dan perasaan. Mereka menyukai olahraga dan berbagai kegiatan yang mengandalkan fisik. Keahlian individu dalam menggunakan seluruh atau sebagian organ tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. Misalnya, sebagai actor, pemain pantomin, atlet, atau penari. Keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, misalnya, sebagai perajin, pematung, ahli mekanik, atau dokter bedah. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti koodinasi, keseimbangan keter ampilan, kelenturan, dan kecepatan maupun kekuatan, maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal yang berkaitan dengan sentuhan. 

Cri-cirinya: gemar berolahraga atau melakukan kegiatan fisik, cakap dalam melakukan sesuatu seorang diri, senang memikirkan persoalan sambil aktif dalam kegiatan fisik seperti berjalan atau lari. Dalam dunia sehari-hari kita sangat memerlukan kecerdasan yang satu ini, misalnya: membuka tutup botol, memasang lampu di rumah, memperbaiki mobil, olah raga, dansa, dsb. Jenis pekerjaan yang menuntut kecerdasan ini antara lain: atlet, penari, pemain pantomim, aktor, penjahit, ahli bedah, dsb. 

5. Musikal 

Kemampuan individu menangani atau mengenali bentuk-bentuk musical, dengan cara mempersepsi, misalnya, sebagai penikmat music. Kemampuan individu dalam membedakan, misalya sebagai kritikus music. Kemampuan individu dalam mengubah, misalnya, sebagai komposer, kemampuan individu dalam dan mengekspresikan, misalnya sebagai penyanyi. Kecardasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titik nada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu, dan warna noda atau warna suara suatu lau. Orang dapat memiliki pemahaman mkusic figural atau “atas-bawah”, misalnya global-intutuif, pemahaman formal atau “bawah-atas”, misalnya analitis-teknis, atau keduanya. 

Ciri-cirinya: yaitu suka bersiul, mudah menghafal nada lagu yang baru didengar, menguasai salah satu alat musik tertentu, peka terhadap suara sumbang, dan gemar bekerja sambil bernyanyi. Dalam keseharian, kita mendapat manfaat dari kecerdasan ini dalam banyak hal, misalnya: saat kita menyanyi, memainkan alat musik, menikmati musik di TV / radio, dsb. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini antara lain: penyanyi, pianis / organis, disc jokey (DJ), teknisi suara, tukang stem piano, dll 

6. Interpersonal 

Kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi,serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, dan gerak- isyarat. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. 

Ciri-cirinya: senang bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau komite, lebih suka belajar kelompok dari pada belajar sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pribadi, keluarga, dan pekerjaan, kecerdasan ini dinilai mutlak diperlukan - dan seringkali disebut sebagai "yang lebih penting" dari kecerdasan lainnya untuk dapat sukses dalam hidup. Kecerdasan antarpribadi ini melibatkan banyak hal, misalnya: kemampuan berempati, kemampuan memanipulasi, kemampuan "membaca orang", kemampuan berteman, dsb. Segala jenis pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain pastilah membutuhkan kecerdasan ini, terutama: public figure, pemimpin, guru, konselor, dll. 

7. Intrapersonal 

Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Peserta didik semacam ini senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Ini juga merupakan kecerdasan untuk bisa merenungkan tujuan hidup sendiri dan untuk mempercayai diri sendiri. Orang tipe ini memiliki kecerdasan pengetahuan akan diri sendiri dan mampu bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri. 

Ciri-cirinya: sering menyendiri untuk memikirkan dan memecahkan masalah itu sendiri, memunyai hobi atau kesenangan yang bersifat pribadi yang tidak banyak anda bagikan atau ungkapkan kepada orang lain. Pekerjaan yang cocok untuk Orang dengan tipe ini yaitu konselor atau teolog, wirausaha, terapis, dll. 

8. Naturalis 

Kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya. 

Ciri-cirinya: yaitu mencintai lingkungan, mampu mengenali sifat dan tingkah laku binatang, dan senang melakukan kegiatan di luar atau alam. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh petani, nelayan, pendaki, dan pembur, ahli biologi, dokter hewan. 

9. Kecerdasan adversarial 

Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan seseorang memilih jalan keluar untuk memecahkan masalah- masalah paling sulit yang dia hadapi. Ketika seseorang tidak berdaya apapun menghadapi permasalahan, bahkan sampai “menzalimi dri sendiri” dengan tindakan yang membahayakan; untuk masalah yang sama orang yang memiliki kecerdasan adversial tetap optimis’ “bergairah”/ dan mampu berpikir alternative untuk mencari solusi atas permasalahannya 

10. Kecerdasan moral 

Kecerdasan moral berkaitan dengan aturan-aturan, perilaku dan sikap yang mengatur kesucian hidup. Kesucian hidup dimaksud tidak hanya berkaitan dengan manusia, melainkan juga kesucian dari setiap makhluk hidup lainnya dan dunia yang mereka tinggali. Termasuk dalam kerangka ini adalah pemahaman seseorang terhadap “sandi-sandi moral” tertentu yang ada di masyarakat. 

11. Kecerdasan spiritual 

Posisi yang berkaitan dengan kecerdasan spiritual jauh lebih kompleks. Kecerdasan spiritual yang istimewa berkaitan dengan klaim nilai kebenaran dan kebutuhan untuk itu harus sebagian diidentifikasi melalui dampaknya terhadap orang lain. Aksentuasinya dapat berupa sikap lebih bertanggung jawab untuk mengukir wilayah spiritualita terdekat dalam jiwa, serta perhatian yang eksplisit dengan hal-hal spiritual atau agama. 


C. Sumber Daya Kecerdasan Ganda 

Teori kecerdasan ganda adalah model yang sangat tepat baik untuk melihat kekuatan mengajar maupun utnuk mempelajari wilayah-wilayah yang perlu diperbaiki. Mungkin guru menghindar jika harus menggambar dipapan tulis atau enggan menggunakan bahan-bahan yang sangat grafis dalam presentasi karena kecerdasan spesialnya belum cukup dikembangkan dalam kehidupan. Mungkin juga guru cenderung pada srategi belajar kelompok atau kegiatan ekologis karena ia sendiri adalah jenis guru yang interpersonal atau naturalis. Untuk tujuan itu, guru harus mengetahui sumber daya kecerdasan ganda. Hal ini sangat penting bagi proses pembelajaran dan pengembangan kepribadian peserta didik. Gunakan teori kecerdasan ganda untuk mempelajari gaya mengajar dan melihat gaya tersebut bersesuaian dengan delapan kecerdasan yang mungkin dimiliki peserta didik. Meskipun guru tidak harus menjadi ahli dalam kesebelas kecerdasan tersebut, mungkin dia perlu tahu cara menggunakan sumber-sumber daya dalam kecerdasan yang biasanya dihindari dikelas. 

Beberapa cara menggunakan sumber-sumber kecerdasan tersebut menurut Gardner (1999) antara lain disajikan seperti berikut ini. 

1. Meminta bantuan teman yang ahli. Jika guru kehabisan akal untuk mengajar dikelas menggunakan music karena kecerdasan musik tidak berkembang, cobalah minta bantuan pada guru musik sekolah atau kolega yang berbakat musik. Ini penting, karena peserta didik hanya akan berkembang dengan percepatan tertentu jika difasilitasi oleh yang berkeahlian. Menurut teori kecerdasan ganda memiliki implikasi luas bagi tim pengajar. Disekolah yang merasa wajib mengembangkan kecerdasan peserta didik tim pengajar atau panitia perancang kurikulum yang ideal meliputi para ahli dalam kesebelas kecerdasan, yakni setiap anggota memiliki tingkat perkembangan yang tinggi pada katergori kecerdasan yang berbeda-beda. 

2. Meminta bantuan peserta didik. Peserta didik sering dapat memberikan solusi dan menunjukkan kemahiran diwilayah tertentu yang kurang dikuasai guru. Misalnya, munkin peserta didik dapat menggambar dipapan tulis, memainkan musik latar bagi kegiatan belajar, atau berbagi pengetahuan tentang kadal, serangga, bunga, atau flora dan fauna lain, jika guru merasa canggung melakukannya sendiri. 

3. Menggunakan teknologi yang ada. Gunakan sumber daya teknis sekolah untuk menyediakan informasi yang tidak dapat guru berikan sendiri. Misalnya, anda guru menggunakan compact disk (CD) music apabila merasa bahwa kecerdasan musiknnya tidak memadai, pemutar video jika guru bukan pengajar yang berorientasi pada gambar, kalkulator dan perangkat lunak computer yang memprogram sendiri untuk mengimbangi kelemahannya diwilayah matematis-logis, dan sebagainya. 

4. Memupuk secara seksama atau melalui pengembangan secara pribadi kecerdasan ganda. Teoti kecerdasan ganda menyediakan model yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan-kecerdasan yang terabaikan dan menyeimbangkan penggunaan semua kecerdasan. 


D. Mengembangkan Kecerdasan Ganda 

Ketika berbicara kecerdasan peserta didik, guru harus berusaha menghindari istilah “kecerdasan yang kuat” dan “kecerdasan yang lemah” ketika menjelaskan perbendaan individual mereka. Karena, kecerdasan yang “lemah” yang dimiliki peserta didik sebenarnya dapat menjadi kecerdasan yang paling kuat apabila diberi kesempatan untuk berkembang. Satu poin kunci dari kecerdasan ganda adalah bahwa kebanyakan peserta didik dapat mengembangkan semua kecerdasan sampat pada tingkat kemampuan mumpuni. Apakah kecerdasan dapat berkembang atau tidak, bertgantung pada tiga faktor penting berikut : 

1. Faktor biologi, termasuk didalamnya faktor keturunan atau genetis dan luka atau cedera otak sebelum, selama, dan setelah kelahiran. 

2. Sejarah hidup peribadi termasuk didalamnya pengalaman-pengalaman denga orang tua, guru, teman sebaya, kawan-kawan dan orang lain, baik membangkitkan maupun yang menghambat perkembangan kecerdasan. 

3. Latar belakang dan historis, termasuk waktu dan tempat peserta didik dilahirkan dan dibesarkan, serta sifat dan kondisi perkembangan historis atau kultural ditempat-tempat lain. 

Pengaruh lingkungan juga berperan mendorong atau menghambat perkembangan kecerdasan peserta didik pengaruh tersebut antara lain : 

1. Akses ke sumber daya. Apabila keluarga tidak mampu membelikan piano, biola, atau alat music lain, kecerdasan fisiknya tidak mungkin berkembang 

2. Faktor historis-kultural. Jika seorang peserta didik memiliki “kecenderungan” pada matematika pada saat program-program matematikan dan ilmu pengetahuan banyak mendapat subsidi, besar kemungkinan kecerdasan matematis-logisnya kan berkembang. 

3. Faktor geografis. Jika peserta didik dibesarkan dilingkungan pertanian, yang memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan aspek-aspek tertentu dari kecerdasan naturalis atau kinestetis-jasmaninya dibandingan jika ia dibesarkan di lantai 30 apartemen yang tinngi menjulang dijakarta. 

4. Faktor keluarga. Jika peserta didik ingin menjdai seniman tetapi orang tua ingin menjadi ahli hukum pengaruh mereka mungkin akan mendorong perkembagnagn kecerdasan linguistic, tetapi menghambat kemajuan kecerdasan spasial. 

5. Faktor situasional. Jika peserta didik harus membantu merawat keluarga besar saat beranjak dewasa dan sekarang ia memiliki keluarga besar sendiri, mungkin ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengembangkan potensi, kecuali potensi tersebut jika potensi tersebut bersifat interpersonal secara alami. 

Dengan demikian, teori kecerdasan ganda menawarkan model perkembangan kepribadian yang dapat membantu guru memahami profil kecerdasan mereka sendiri dapat mempengaruhi pendekatan-pendekatan pengajran mereka diluar kelas. Disamping itu, teori membuka kemungkinan bagi kegiatan-kegiAtan yang dapat membantu kita mengembangan kecerdasan yang selama ini terabaikan, mengaktifkan kecerdasan yang tidak berkembang atau lumpuh, serta membawa kecerdasan yang berkembang baik menuju tingkat kecakapan yang semakin tinggi. Berikut ini dikemukakan beberapa poin kunci dalam pengembangan kecerdasan ganda. 

1. setiap peserta didik memiliki kesebelas kecerdasan. Teori kecerdasan gandaa bukanlah “teori jenis” untuk menentukan satu kecerdasan yang sesuai. Teori ini adalah teori fungsi kognitif, yang menyatakan bahwa setiap peserta didik memiliki kapasitas dalam kesebels kecerdasan tersebut. Kesebelas kecerdasan tersebut. Kesebels kecerdasan tersebut berfungsi berbarengan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap peserta didik. Beberapa orang sangat mungkin memiliki tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua kecerdasan. Sebagian yang lain, seperti yang ada di lembaga-lembaga keterbelakangan mental, tampaknya memiliki kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek kecerdasan yang paling mendasar. 

2. Peserta didk pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai. Setiap kecerdasan yang telah dibahas dimuka sebenarnya hanyalah “rekaan”; yakni, tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari (kecuali mungkin untuk kasus yang amat langka pada diri peserta didik yang mengalami cidera otak ). Kecerdasan selalu berinteraksi satu sama lain. Untuk memasak makanan, orang harus membaca resep (linguistic), mungkin perlu membaginya menjadi setenagh resep (matematis-logis), membuat menu yang dapat memuaskan seluruh anggota keluarga (interpersonal), dan juga memenuhi selera dirinya sendiri (intrapersonal). Demikian pula, ketika seorang anak bermain bola kaki, ia membutuhkan kecerdasan kinestetis-jasmani (berlari, menendang, atau menangkap bola), kecerdasan ruangan (mengorientasikan diri dilapangan tempat bermain dan mengantisipasi lintasan bola yang melayang), dan kecerdasan linguistic dan interpersonal (agar dapat mengutarakan argument dengan benar ketika melakukan protes kepada wasit). Daam teori kecerdasan ganda, kecerdasan keluar dari konteks aslinya agar dapat dinilai aspek-aspek esensialnya dan dipelajari cara menggunkannya secara efektif 

3. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori. Tidak ada rangkaian atribut standar yang harus dimiliki seseorang untuk dapat disebut cerdas dalam wilayah tertentu. Oleh karena itu, orang mungkin saja tidak dapat membaca, tetapi memiliki kecerdasan linguistic yang tinggi karena ia dapat menyampaikan cerita yang memukau atau memiliki kosa kata lisan yang luas. Demikian pula, orang mungkin tampak canggung ketika berada dilapangan olahraga, tetapi ,e,iliki kecerdasan kinestetis-jasmani yang luar biasa ketika ia merajut karpet atau membuat papan catur yang indah. Teori kecerdasan ganda menekankan keanekaragaman cara orang menunjukkan bakat, baik dalam suat kecerdasan tertentu maupun antarkecerdasan. 


E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan 

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu: 
Faktor Bawaan atau Biologis 

Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Meskipun banyak argumentasi para ahli tentang besaran pengaruh genetika atau faktor keturunan dalam perkembangan kecerdasan seseorang, tetapi semua sepakat bahwa genetika sedikit banyak berpengaruh. Hasil riset dibidang neuroscience menunjukkan bahwa faktor genetika berpengaruh terhadap respon kognitif seperti kewaspadaan, memori, dan sensori. Artinya seseorang akan berpikir dan bertindak dengan menggunakan ketiga aspek itu secara simultan. 


Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas 

Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. 


Faktor Pembentukan atau Lingkungan 

Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. 


Faktor Kematangan 

Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. 


Faktor Kebebasan 

Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya. 


Pengalaman 

Pengalaman merupakan ruang belajar yang dapat mendorong pertumbuhan potensi seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa potensi otak tumbuh dan berkembang sejalan dengan pengalaman hidup yang dilaluinya. Sejak lahir hingga masa kanak-kanak yang memperoleh pengasuhan yang baik dari ibunya akan tumbuh lebih cepat dan lebih sukses dibanding anak yang kurang mendapat perhatian cenderung menimbulkan rasa rendah diri dan frustasi. Bila hal ini berjalan secara berulang-ulang akan menentukan besaran potensi kecerdasan yang dimilikinya. 
Lingkungan 

Lingkungan atau konteks akan banyak membentuk kepribadian termasuk potensi kecerdasan seseorang. Lingkungan yang memberikan stimulus dan tantangan diikuti upaya pemberdayaan serta dukungan akan memperkuat mental dan kecerdasan. 


Kemauan dan Keputusan 

Kemauan yang kuat dalam diri seseorang membantu meningkatkan daya nalar dan kemampuan memecahkan masalah. Kemauan dan keputusan sering dijelaskan dalam teori motivasi. Dorongan positif akan timbul dalam diri seseorang sejalan dengan lingkungan yang kondusif, sebaliknya jika lingkungan kurang menantang sulit untuk membangun kesadaran untuk berkreasi. Otak yang paling cerdas sekalipun akan sulit mengembangkan potensi intelektualnya. 


9. Aktivitas Belajar dan Kegiatan Harian 

Aktivitas dan kebiasaan manusia merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bermakna bagi kesuksesan seseorang. Menggali kebiasaan hidup sehari-hari sangat membantu dalam memetakan pengalaman belajar yang dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat. Implikasi dari model belajar terpadu melalui aktivitas dan pengalaman nyata pada intinya menyerukan perubahan fundamental dalam praktek bersekolah-di-rumah yang bersifat padagogis dengan rangkaian pengembangan kemampuan majemuk melalui kebiasaaan dan pengalaman yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam konteks pembelajaran di rumah, aktivitas merupakan pengalaman itu sendiri yang dibangun berdasarkan nilai-nilai, kebiasaan, tindakan, kerjasama dan keputusan yang dirangkaikan melalui pola hubungan positif dengan keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Pelatihan bukan upaya menerampilan suatu kemampuan tertentu kepada sebagian kelompok masyarakat, tetapi membangun kemampuan belajar berinteraksi dan merencanakan perubahan kedepan. 


F. Perkembangan Kreativitas 

Studi-studi mengenai kreativitas menunjukkan bahwa perkembangannya mengikuti pola yang dapat diramalkan. Ini tampak pada awal kehidupan dan pertama-tama terlihat dalam permainan anak, lalu secara bertahap menyebar ke berbagai bidang kehidupan lainnya seperti pekerjaan. 

Hasil kreatif biasanya mencapai puncaknya pada usia tiga puluh dan empat puluhan. Setelah itu tetap mendatar atau secara bertahap menurun. Erikson menyebut usia menengah sebagai “usia krisis” saat “genetarivity” (kecenderungan untuk mencipta atau mewujudkan sesuatu) atau stagnasi” akan mendominasi. Lehman menjelaskan, puncak awal dalam kreativitas disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kesehatan buruk, lingkungan keluarga, tekanan keuangan, dan kekurangan waktu luang. Tidak terdapat bukti bahwa puncak awal atau penurunan berikutnya disebabkan oleh batasan bawaan. 

Apakah pola ini akan diikuti atau tidak sebagian besar bergantung pada pengaruh-pengaruh lingkungan yang memudahkan atau menghalangi ekspresi kreatvitas. Spock menekankan betapa pentingnya sikap awal orang tua terhadap ekspresi kreativitas anak ketika ia mengatakan : 

“orang tua yang memperkenalkan bayi kedunia benda mati atau tidak melakukannya – menunjukan mereka, apa saja kesenangan yang dapat diperoleh dengan meletakkan sejumlah sendok dalam panic, melihat gambar buku, atau menari mengikuti irama music. Apabila orang tua mengajar mereka dengan semangat positif ini, mereka bukan saja akan menimbulkan perasaan bahwa hal-hal itu dapat dinikmati namun mereka juga akan mampu melakukannya sendiri dengan baik. Atau jika orang tua mempunyai sikap yang berlawanan, mereka akan mengajarkan bahwa benda-benda itu harus dihindari karena bermain dengannya dapat menimbullkan bahaya atau kemarahan orang tua”. 

Arasteh melaporkan, bahwa perkembangan kreativitas mungkin terhambat pada beberapa “ periode kritis” selama masa kanak-kanak dan remaja.beberapa anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang menyebabkan kebekuan kreativitas mereka pada periode ini, sedangkan anak lain dengan usia sama tidak mengalaminya. Misalnya, anak yang masuk taman kanak-kanak mungkin menunjukkan kreativitas yang lebih besar pada usia itu daripada anak yang belum masuk sekolah. Ini sebagian karena lingkungan taman kanak-kanak memperkenalkan kreativitas dan tidak begitu terstruktur dan evaluative ketimbang lingkungan rumah atau tetangga. 

Perkembagan kreativitas menjadi bagian integral dari proses perkembangan kognitif. Ketika memasuki usia dini, perkembangan kognitif anak memperlihatkan kecenderungan suasana intuitif. Semua perbuatan rasionalnya tidak banyak memperoleh dukungan dari pemikiran, melainkan sangat kuat dipengaruhi oleh persaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang dewasa, dan lingkungan sekitar. 

Ciri dominan masa ini, anak tampil sangat egosentris, sehingga sering kali mengalami masalah ketika berinteraksi dalam lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya. Kemampuan mengembangkan kreativitas sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan berkemampuan memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, dengan tingkat jangjauan tertentu. 

Ketika memasuki usia sekolah dasar anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret, disertai dengan berkembangnya rasa ingin tahu (curiosity) yang cukup kuat. Proses interaksi anak dengan lingkungan, termasuk dengan orang tua, sudah semakin berkembang dengan baik. Kretivitas anakpun makin berkembang pada masa ini. Sejalan dengan itu sifat egosentrisnya semakin berkurang. Menurut Piaget dan beberapa pakar lainnya, faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas adalah sebagai beikut: 

§ Kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, meskipun masih memerlukan bantuan objek-objek konkret. 

§ Kemampuan berpikir logis dalam bentuk sederhana. 

§ Kemampuan menampilkan operasi-operasi mental. 

§ Berkembangnya kemampuan memelihara identitas diri. 

§ Meluasnya konsep tentang ruang sudah semakin meluas. 

§ Keasadaran akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. 


Ketika memasuki usia sekolah menengah pertama, interaksi anak dengan lingkungan makin meluas, demikian juga pergaulan dengan teman sebaya dan orang dewasa. Perkembangan kreatifitas anak pada tahap ini sangat potensial dan relative mudag diaktualkan. 


Faktor-faktor yang meningkatkan kreativitas 

Ketika masih diyakini bahwa kreativitas merupakan unsur bawaan yang dimiliki sebagian kecil anak, dianggap bahwa kreativitas akan berkembang secara otomatis dan tidak dibutuhkan adanya rangsangan lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangan ini. Bertentangan dengan itu, sekarang diketahui bahwa semua anak mempunyai potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Akibatnya, kreativitas seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan dan rangsangan oleh lingkungan untuk berkembang. 

Beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreatifitas dimaksud disajikan berikut ini : 

1. Kemampuan mengkombinasikan tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis. 

2. Kemampuan melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasarkan pemikiran logis. 

3. Pemahaman relative tentang ruang dan waktu. 

4. Kemampuan memisahkan dan mengendalikan variabel-variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks. 

5. Kemampuan melakukan abstraksi reflektif dan berpikir hipotesis. 

6. Kemampuan menunjukkan “keidealan” diri pribadi. 

7. Kemampuan menguasai bahasa abstrak 

8. Kemampuan merefleksi masa depan. 

9. Kemampuan membedakan anekah fenomena dan objek. 

Titik pandangan baru mengenai kreativitas mendorong diadakannya penelitian untuk menentukan apa saja kondisi lingkungan yang menguntungkan dan yang membekukan perkembangan krativitas. Penelitian ini telah menunjukkan dua faktor yang penting. 

Pertama, sikap sosial yang ada dan tidak menguntungkan kreativitas harus ditanggulangi. Alasannya karena sikap seperti itu mempengaruhi teman sebaya, ornag tua, dan guru serta perlakuan mereka terhadap anak yang berpotensi kreatif. Apabila harus dibentuk kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas, faktor negative ini harus dihilangkan. Hal ini banyak diusahakan orang tua dengan menekankan kenormalan anaknya yang kreatif dan dengan mendorongnya untuk berbuat seperti teman sebayanya dan menaruh perhatian terhadap apa saj yang menjadi perhatian teman sebaya. 

Kedua, kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas harus diadakan pada awal kehidupannya ketika kreativitas mulai berkembang dan harus dilannjutkan terus sampai berkembang dengan baik. Torda telah menjelaskan : kreativitas tidak saja bergantung pada potensi bawaan yang khusus, tetapi juga pada perbedaan mekanisme mental yang menjadi sarana untuk mengungkapkan sifat bawaan. Mekanisme mental ini dihasilkan oleh suatu tipe adaptasi awal khusus . . . Tampaknya orang kratif dan tidak kreatif menggunakan mekanisme mental yang serupa dan berbeda . . . Orang yang kreatif dan tidak kreatif berbeda dalam hal sikap (falsafah hidup), apa yang mereka anggap penting dan yang menimbulkan kecemasan dan menunjukkan perbedaan dalam kecakapan memecahkan masalah. Perbedaan ini sebagian berasal dari sifat bawaan dan sebagian dari proses adaptasi aal yang beakar dalam sikap orang tua. 

Sejumlah hal dapat dilakukan untuk meningkatkan kreativitas; yang paling penting dari kondisi ini dan perannya dalam upaya mempertinggi kreativitas disajikan dan dijelaskan secara singkat berikut ini : 

· Waktu : untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka untuk bermain-main dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dan mencobanya dalam bentuk baru dan orisinal. 

· Kesempatan menyendiri : hanya apabila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat menjadi kreatif. Singer menerangkan, “anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk mengembangkan kehidupan imajinatif yang kaya “. 

· Dorongan : terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang ewas, mereka harus didoromg untuk kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang seringkali dilontarkan pada anak yang kreatif. 

· Sarana : sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas. 

· Lingkungan yang merangsang : lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas dengan memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitas. Ini harus dilakukan sedini mungkin sejak masa bayi dan dilanjutkan hingga masa sekolah dengan menjadikan kreativitas suatu pengalaman yang menyenangkan dan dihargai secara sosial. 

· Hubungan orang tua-anak yang tidak posesif : orang tua yang tidak terlalu melindungi atau terlalu posesif terhadap anak, mendorong anak untuk mandiri dan percaya diri, dua kualitas yang sangat mendukung kreativitas. 

· Cara mendidik anak : mendidik anak secara demokratis dan permisif dirumah dan sekolah meningkatkan kreativitas sedangkan cara mendidik otoriter memadamkannya. 

· Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan : kreativitas tidak muncul dalam kehampaan. Semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif. Pulaski mengatakan “ anak-anak harus berisi agar dapat berfantasi”. 


G. Karakteristik peserta didik yang kreatif 

Anak atau peserta didik yang kreatif menjadi dambaan orang tua dan guru. Anak-anak yang kreatifpun biasnya cenderung sukses dalam menjalani hidup ketika sudah dewasa. Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreatifitas seperti berikut ini. 

Ø Senang mencari pengalaman baru. 

Ø Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit. 

Ø Memiliki inisiatif 

Ø Memiliki ketekunan yang tinggi 

Ø Cenderung kritis terhadap orang lain 

Ø Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya 

Ø Selalu ingin tahu 

Ø Peka atau perasa 

Ø Energik dan ulet 

Ø Menyukai tugas-tugas yang majemuk 

Ø Percaya kepada diri sendiri 

Ø Mempunyai rasa humor 

Ø Memiliki rasa keindahan 

Ø Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi. 


Banyak kesamaan dengan pendapat Utami Munandar, Clark (1988) mengemukakan karakteristik kreatifitas seperti berikut ini. 

Ø Memiliki kedisiplinan diri yang tinggi 

Ø Memiliki kemandirian yang tinggi 

Ø Cenderung sering menentang otoritas 

Ø Memiliki rasa humor 

Ø Mampu menentang tekanan kelompok 

Ø Lebih mampu menyesuaikan diri 

Ø Senang berpetualang 

Ø Toleran terhadap ambiguitas 

Ø Kurang toleran terhadap hal-hal yang membosankan 

Ø Menyukai hal-hal yang kompleks 

Ø Memiliki kemampuan berpikir divergent yang tinggi 

Ø Memiliki memori dan atensi yang baik 

Ø Memiliki wawasan yang luas 

Ø Mampu berpikir periodic 

Ø Memerlukan situasi yang mendukung 

Ø Sensitive terhadap lingkungan 

Ø Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi 

Ø Memiliki nilai estetik yang tinggi 

Ø Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks 

Piers (1976) dan Torranc (1981) berpendapat bahwa karakteristik kreatifitas seperti berikut ini. 

Ø Memiliki dorongan (drive) atau kemauan yang tinggi 

Ø Memiliki keterlibatan yang tinggi 

Ø Memiliki ketekunan yang tinggi 

Ø Cenderung tidak merasa puas terhadap kemapanan 

Ø Memiliki kemandirian yang tinggi 

Ø Bebas dalam mengambil keputusan 

Ø Menerima diri sendiri 

Ø Senang humor 

Ø Memiliki intuisi yang tinggi 

Ø Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks 

Ø Toleran terhadap ambiguitas 

Ø Bersifat sensitive 

Ø Memiliki rasa ingin tahu yang besar 

Ø Tekun dan tidak mudah bosan 

Ø Percaya diri dan mandiri 

Ø Merasa tertantang oleh kemajuan atau kompleksitas 

Ø Berani mengambil resiko 

Ø Berpikir divergent 


H. Tahap-tahap pengembangan kreatifitas 

Salah satu tugas guru adalah membantu atau memfasilitasi perkembangan peserta didiknya. Pengembangan potensi peserta didik bersifat continue dan menggunakan tahapan tertentu. Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkobasi, iluminasi, dan ferivikasi. Disamping keempat tahap seperti dikemukakan oleh Wallas, penulis menambahkan “penyadaran” dan “tindakan” sebagai bagian dari pengembangan kreatifitas. 

1. Penyadaran (consciousness) akan imajinasi. Peserta didik yang kreatif memiliki banyak imajinasi. Sering kalai imajinasi berlalu begitu saja, tanpa adanya kesadaran atasnya. Dengan demikian, ide-ide kreatif yang terlontar sebagai imajinasi perlu diinternalisasi sedemikian rupa, laksana keinginan mentranformasikan mimpi menjadi realitas. Kemungkinan untuk mewujudkan realitas inilah yang disebut sebagai penyadaran dan kesadaran untuk bertindak kreatif. 

2. Persiapan (preparation), dimana peserta didik berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehingga menjadi tindakan kreatif. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, peserta didik berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu yang bersifat kreatif itu. 

3. Inkubasi (incubation), dimana peserta didik seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan “menghadapinya” dalam alam prasadar. 

4. Iluminasi (illumination), dimana peserta didik mulai membangun proses psikologis untuk mempersiapkan diri bagi transformasi tindakan kreatif atas gagasan baru yang dimilikinya. 

5. Verivikasi (verivication), dimana gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergent sangat perlu, namun harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Disini, pemikiran dan sikap spontan harus diikutu oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik untuk kemudian melakukan persiapan bagi pengujian terhadap realitas. 

6. Tindakan kreatif (creative action), dimana peserta didik melakukan tindakan nyata atas ide-ide kreatif atau imajinasinya, sehingga mewujud menjadi kenyataan yang dikehendaki. 


I. Hubungan Kreativitas Inteligensi 

Salah satu masalah yang selalu menarik perhatian para pakar dan masyarakat pada umumnya adalah hubungan antara inteligensi dan kreativitas. Banyak kontroversi seputar konsep inteligensi adalah kualitas yang tunggal (unitary), diwariskan secara genetis, dan dapat diukur. Pada pertengahan abad ini tampak perkembangannya terfokus pada masalah singularitas dan pluralitas inteligensi. 

Spearman (1929) percaya bhwa inteligensi mencakup factor (daya penalaran abstrak) yang konsisten, dan factor spesifik yang berbeda pada kinerja yang berbeda. Thurstone (1938) sebaliknya percaya bahwa inteligensi bersifat multidimensi, mencakup tujuh kemampuan mental primer (primary mental abilities). Contoh ekstrem dari sifat pluralistik inteligensi tampil pada model Struktur Intelek dari Guilford (1961), dengan 150 kemampuan intelek manusia. Ia merumuskan inteligensi sebagai “kemampuan untuk memecahkan masalah, atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam satu kebudayaan atau lebih”. (Vialle, 1995) Teori-teori dewasa ini lebih condong meluaskan konsep inteligensi, meskipun dengan cara-cara yang berbeda. Inteligensi bukan cirri tunggal sebagaimana sering dikonsepsikan dimasa lampau. Kreativitaspun merupakan konsep yang bersifat multidimensi, yang dapat ditinjau dari dimensi-dimensi yang berbeda. Setiap budaya/masyarakat menentukan apakah makna inteligensi, sehingga konsepsi inteligensi bebeda dalam kala waktu dan lingkungan yang berbeda. Juga, apa yang dinilai kreatif belum tentu sama dalam masyarakat/budaya yang berbeda. Inteligensi dan kreativitas bergantung pada factor eksternal dan internal. Potensi intelektual dan kreatif dapat ditingkatkan atau dihambat sebagai dampak interaksi dengan lingkungan. 

Guilford dengan pidatonya yang terkenal pada tahun 1950 berupaya menarik perhatian terhadap masalah kreativitas dalam pendidikan, yaitu bahwa pengembangan kreativitas ditelantarkan dalam pendidikan formal padahal ini amat bermakna bagi pengembangan potensi individu secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Kemudian dengan diajukannya model Struktur Intelek, tanpak perhatian terhadap kreativitas, termasuk hubungan antara kreativitas dan inteligensi, sangatlah meningkat, khususnya sejauh mana inteligensi berpengaruh terhadap kreativitas seseorang. Model Struktur Intelek membedakan antara berpikir “konvergen” dan “divergen”. Kemampuan berpikir konvergen mendasari tes inteligensi tradisional dan kemampuan berpikir divergen merupakan indikator dari kreativitas. 

Teori “ambang inteligensi untuk kreativitas” dari Anderson memaparkan bahwa sampai tingkat inteligensi tertentu, yang diperkirakan seputar IQ 120, ada hubungan yang erat antara inteligensi dan kreativitas. Produk kreativitas yang tinggi memerlukan tingkat inteligensi yang cukup tinggi pula. Tetapi diatas ambang inteligensi itu tidak ada korelasi yang tinggi lagi antara inteligensi dan kreativitas. 

Sehubungan dengan masalah dimensionalitas inteligensi-kreativitas, dalam penelitian Utami Munandar (1977) ditunjukkan bahwa hasil studi korelasi dan analisis faktor membuktikan tes kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari tes inteligensi, tetapi berpikir divergen (kreativitas) juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen (inteligensi). 



PENUTUP 

KESIMPULAN 

1. Kecerdasan ganda manusia sudah ada sejak dulu. Manusia memiliki beragam kecerdasan dengan beberapa kombinasi tonjolannya. Beragam kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang itulah yang membuat manusia senantiasa berbeda satu sama lain. Cara terbaik menilai kecerdasan ganda seseorang atau bahkan diri sendiri adalah melalui penilaian kinerja secara realistis pada berbagai macam tugas, kegiatan, dan pengalaman yang berkaitan dengan setiap kecerdasan. 

2. Jenis-jenis kecerdasan ganda yaitu : 

- Linguistic - Intrapersonal 

- Matematika-logis - Interpersonal 

- Keruangan - Naturalis 

- Kinestetik-jasmani - Kecerdasan adversarial 

- Musical - Kecerdasan moral 

- Kecerdasan spiritual 

3. Guru harus mengetahui sumber daya kecerdasan ganda. Hal ini sangat penting bagi proses pembelajaran dan pengembangan kepribadian peserta didik. Beberapa cara menggunakan sumber-sumber kecerdasan tersebut antara lain : 

- Meminta bantuan teman yang ahli 

- Meminta bantuan peserta didik 

- Menggunakan teknologi yang ada 

- Memupuk secara saksama atau melalui pengembangan secara pribadi kecerdasan ganda 

4. Satu poin kunci dari kecerdasan ganda adalah bahwa kebanyakan peserta didik dapat mengembangkan semua kecerdasan sampat pada tingkat kemampuan mumpuni.beberapa poin kunci dalam pengembangan kecerdasan ganda yaitu : setiap peserta didik memiliki kesebelas kecerdasan, peserta didik pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai, da nada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori. 

5. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu: 

- Faktor bawaan atau biologis - Pengalaman 

- Faktor minat dan pembawaan yang khas - Lingkungan 

- Faktor pembentukan atau lingkungan - Kemauan dan Keputusan 

- Faktor kematangan - Aktivitas Belajar dan Kegiatan Harian 

- Faktor kebebasan 

6. Perkembagan kreativitas menjadi bagian integral dari proses perkembangan kognitif. Ketika memasuki usia dini, perkembangan kognitif anak memperlihatkan kecenderungan suasana intuitif. Semua perbuatan rasionalnya tidak banyak memperoleh dukungan dari pemikiran, melainkan sangat kuat dipengaruhi oleh perasaan, sikap-sikap yang diperoleh dari orang dewasa, dan lingkungan sekitar. Kemampuan mengembangkan kreativitas sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan berkemampuan memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, dengan tingkat jangjauan tertentu. 


7. Karateristik peserta didik yang kreatif antara lain : selalu ingin tahu, enerjik dan ulet, percay kepada diri sendiri, memiliki kedisiplinan diri yang tinggi, memiliki kemandiriannyang tinggi,memiliki wawasan yang luas,mampu berpikir periodic, memiliki rasa humor,tekun dan tidak mudah bosan berpikir divergen dan berani mengambil risiko. 

8. Tahap-tahap pengembangan kreativitas adalah sebagai berikut : 

- Penyadaran (consciousness) akan imajinasi. 

- Persiapan (preparation) 

- Inkubasi (incubation) 

- Iluminasi ( illumination) 

- Verifikasi (verivication) 

- Tindakan kreatif (creative action) 

9. Hasil studi korelasi dan analisis faktor membuktikan tes kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari tes inteligensi, tetapi berpikir divergen (kreativitas) juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen (inteligensi). Bila tidak ada hambatan yang mengganggu perkembangan kreativitas cukup aman untuk mengatakan bahwa semakin cerdas anak semakin dapat ia menjadi kreatif atau sebaliknya. 


DAFTAR PUSTAKA 

Elizabeth B. Hurlock. 1978, Perkembangan Anak, Jakarta ,PT Erlangga. 

S.C. Utami Munandar,1999,Kreativitas dan keberbakatan (Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat),PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta 

Sudarwan Danim.2014. Perkembangan Peseta Didik,Bandung,PT Alfabeta 

Jeck Wijaya,2014.8 Kecerdasan Manusia menurut Howard Gardner. http://jeckprodeswijaya/2014/03/8-macam-kecerdasan-manusia-menurut.html#_ (diakses 19-10-2015) 

Ismi Izzati,2015. MAKALAH Perkembangan Kepribadian Peserta Didik dengan Kecerdasan Ganda, Perkembangan Kreativitas Peserta Didik dan Perkembangan dalam Kelompok Sebaya. hhtp://ismibrebes/2015/02/makalah-perkembangan-kepribadian.html 

Maryati,2011.Materi Kuliah Perkembangan Peserta Didik. https://pendidikansosiologistkipbima.files.wordpress.com/2013/08/materi-kuliah-perkembangan-peserta-didik.pdf. (diakses 19-10-2015) 

Meilania. 8 Jenis Kecerdasan. http://indonesia-educenter.net/doc/mi/mimateri2.pdf (diakses 19-10-2015) 

0 Response to "Makalah Kecerdasan Ganda"

Post a Comment