Teknologi Pendidikan


PENDAHULUAN 

1.1 LATAR BELAKANG 

Teknologi pendidikan muncul menjadi isu seiring dengan perkembangan kehidupan manusia dan kebutuhan akan pendidikan dan pembelajaran. Awalnya Teknologi Pendidikan dianggap sebagai bidang garapan yang terlibat dalam penyiapan fasilitas belajar (manusia) melalui penelusuran , pengembangan, organisasi, dan pemanfaatan sistematis seluruh sumber-sumber belajar; dan melalui pengelolaan seluruh proses ini (AECT 1972).
Dan pada akhirnya diartikan sebagai studi dan praktek etis dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan mencipatakan, menggunakan, dan mengatur proses teknologi dan sumber daya yang cocok (AECT, 2004). 

Teknologi merupakan bagian integral dalam setiap budaya. Makin maju suatu budaya, makin banyak dan makin canggih teknologi yang digunakan. Meskipun demikian masih banyak di antara kita yang tidak menyadari akan hal itu. Sebenarnya 25 tahun yang lalu Menteri Pendidikan Daoed Joesoef telah menyatakan bahwa Teknologi diterapkan di semua bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan. Teknologi pendidikan ini karenanya beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan terjalin dalam berbagai bidang penididikan”. 

1.2 RUMUSAN MASALAH 

Rumusan Masalah dalam Makalah ini anatara lain : 

1). Apa Pengertian Teknologi Pendidikan ? 

2). Bagaimana Landasan Teknologi Pendidikan ? 

3). Apa itu Falsafah Teknologi Pendidikan ? 

4). Bagaimana Visi, Misi, dan Tujuan Teknologi Pendidikan ? 

5). Apa itu Konsep Teknologi Pendidikan ? 

6). Bagaimana Kawasan Teknologi Pendidikan ? 

1.3 TUJUAN 

Tujuan Makalah ini disusun untuk : 

1). Untuk mengetahui tentang Pengertian Teknologi Pendidikan 

2). Untuk mengetahui tentang Landasan Teknologi Pendidikan 

3). Untuk mengetahui tentang Falsafah Teknologi Pendidikan 

4). Untuk mengetahui tentang Visi, Misi, dan Tujuan Teknologi Pendidikan 

5). Untuk mengetahui tentang Konsep Teknologi Pendidikan 

6). Untuk mengetahui tentang Kawasan Teknologi Pendidikan 



PEMBAHASAN 


2.1 MENGENAL TEKNOLOGI PENDIDIKAN 

2.1.1 Pengertian Teknologi Pendidikan 

Teknologi pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengeva-luasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Teknologi pendidikan dapat dipandang dari berbagai sisi. Cara pandang tersebut melandasi langkah gerak teknologi pendidikan dalam dunia pendidikan. Teknologi pendidikan dapat dipandang sebagai suatu disiplin ilmu, bidang garapan, dan profesi. Masing-masing sudut pandang memiliki syarat-syarat tersendiri dan teknologi pendidikan sudah memenuhi seluruh persyaratan ditinjau dari ketiga visi tadi. 

Peningkatan teknologi pendidikan sebagai ilmu dan profesi ditentukan oleh kawasan dan bidang garapan. Bidang garapan mengembangkan, menerapkan, membuktikan dan memperbaiki teori berdasarkan masukan dari lapangan. 

Teknologi pendidikan dalam arti sempit dapat merupakan media pendidikan yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan agar berhasil guna, efisien dan efektif. Teknologi dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. 

Dari pengertian Teknologi Pembelajaran tersebut dapat dipahami bahwa ruang lingkupnya sangat luas, mencakup semua faktor yang terkait dan terlibat dalam proses pendidikan. 

(Sumber Pengertian Teknologi Pendidikan : Siyamta,MT. – Teknologi Pendidikan Sebagai Bidang Garap Menurut AECT 1994 – “PENDAHULUAN” | ITB) 

2.1.2 Landasan Teknologi Pendidikan 

2.1.2.1 Landasan filosofis teknologi pendidikan 

Landasan falsafah penelitian teknologi pendidikan terdiri atas 3 komponen seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri dalam Miarso. Ada 3 jenis komponen dalam teknologi pendidikan yaitu ontology (merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya apa), epistemology (pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu itu bagaimana), dan aksiology (menelaah tentang nilai guna baik secara umum maupun secara khusus, baik secara kasat mata atau secara abstrak). Kurikulum teknologi berorientasi ke masa depan yang memandang teknologi sebagai dunia yang dapat diamati serta diukur secara pasti. Oleh karena itu dalam pendidikan lebih mengutamakan penampilan perilaku lahirnya atau eksternal dengan penerapan praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara kharakteristik menuju ke arah komputerisasi program pengajaran yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip Gybeructis. Dalam proses belajar mengajar, model teknologi pendidikan lebih menitik beratkan kemampuan siswa secara individual dimana materi pelajaran sesuai ketingkatan kesiapan sehingga siswa mampu menunjukan perilaku tertentu yang diharapkan. Manfaat yang sangat besar dari model kerikulum teknologi ini adalah materi pelajaran dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia, para siswa menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal, tetapi para siswa lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih hidup, lebih realitis serta lebih impresif. 

2.1.2.2 Landasan psikologi teknologi pendidikan 

Dalam pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dianggap melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Pola tingkah laku tersebut meliputi aspek rohani dan jasmani. Menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan dan menyangkut sikap nilai. Siswa yang belajar dipandang sebagai organisme yang hidup sebagai satu keseluruhan yang bulat. Ia bersifat aktif dan senantiasa mengadakan interaksi dengan lingkungannya, memerima, menolak, mencari sendiri dapat pula mengubah lingkungannya. Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar. Menurut Lumsdaine (dalam Miarso 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam miarso 2009) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pebelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan ―front-end analysis‖, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya ―performance problem analysis‖. Dan Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai ―performance technology‖. Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan ―Human resources management technology‖. Penanganan berbagai pihak yang diperlukan dan memiliki perhatian terhadap pengembangan program belajar dan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memerlukan satu teknik tertentu yang dapat mengkoordinir dan mengakomodasikannya sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing. 


2.1.2.3 Landasan sosiologis teknologi pendidikan 

Peranan teknologi dalam belajar yang dirancang sebagai tujuan pengajaran yang lebih efektif dan ekonomis merupakan peranan komunikasi yang sangat penting sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani. 

Seorang ahli komunikasi dari Amerika Wilbur schramm menjabarkan pengertian ilmu komunikasi itu kedalam 3 kategori pokok dengan berbagai istilah yaitu : Encoder yaitu komunikasi, guru mempunyai informasi tertentu dan benar, kecepatan yang optimal dan sampai pada penerima informasi yaitu para siswa. Signal yaitu pesan, berita pernyataan yang ditujukan kepada dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima pesan itu yang dilukiskan dalam bentuk gerak tangan, mimic, wajah, gambaran, foto, grafik, peta, diagram dll. Decodes yaitu komunikasi yang dalam konteks pendidikan adalah siswa yang menerima pesan tertentu, mampu memahami isi pesan yang diterimanya. 

2.1.2.3 Landasan religius teknologi pendidikan 

Dalam proses pembelajaran yang mengacu pada landasan keagamaan, seorang guru diharapkan bisa mengubah moral peserta didiknya, agar dalam pembelajaran nantinya bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Maka disini seorang guru, ketika ada seorang peserta didiknya yang tidak memahami apa yang disampaikan, guru dapat menggunakan teknik atau cara pembelajaran lain dengan tanpa mempersulit caranya tersebut agar pemahaman peserta didiknya tidak menyimpang, yang nantinya dapat mempengaruhi moral peserta didiknya. Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam Al-qur‘an. 

Dari penjelasan tersebut sudahlah jelas bahwa dalam proses pembelajaran, agama sendiri tidak mempersulit tentang cara yang akan dipakai oleh seorang guru dalam penyampaian pelajarannya. 

Selain itu, pesan yang disampaikan lewat interaksi antara guru dan peserta didiknya harus bisa mengimbangi keadaan peserta didiknya, sehingga bisa diterima materinya. Dengan kata lain guru harus bisa mengajarkan materinya sesuai dengan ukuran akal peserta didiknya sehingga mampu diserap dan diamalkan apa yang disampaikannya. 

2.1.3 Peran dan Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan 

2.1.3.1 Peran Teknologi 

Teknologi pendidikan sangat bermanfaat bagi manusia dalam pendidikan. Dalam teknologi pendidikan akan melibatkan prosedur, ide, peralatan dan organisme untuk menganalisis masalah pendidikan mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek pembelajaran dalam pendidikan. 

Teknologi secara umum mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut : 

· Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalis (tertulis dan lisan). 

· Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera. 

· Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan variasi dapat diatasi sikap pasif peserta didik kurikulum dan materi pendidikan. 

2.1.3.2 Ruang Lingkup Teknologi 

Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan dan penilaian sistem teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia, dengan demikian aspek-aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penilaian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware dan perangkat lunak software. Aspek-aspek tersebut difungsikan untuk mendesign, melaksanakan penilaian pendidikan dengan pendekatan yang sistematis. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ruang lingkup teknologi pendidikan sangat luas yaitu mencakup semua faktor yang terkait dan terlibat dalam proses pendidikan, faktor-faktor itu adalah orang, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi. 

2.1.4 Aplikasi Teknologi Pendidikan 

Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas, terutama peningkatan prestasi belajar siswa atau mahasiswa. Keterbatasan media teknologi pendidikan disatu pihak dan lemahnya kemampuan dosen atau guru menciptakan media tersebut di sisi lain membuat penerapan metode ceramah makin menjamur. Kondisi ini jauh dari menguntungkan. Terbatasnya alat-alat teknologi pendidikan yang dipakai di kelas diduga merupakan salah satu sebab lemahnya mutu studi pelajar atau masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat dan untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi dimasyarakat. Dibuatnya instrumen teknologi komunikasi seperti satelit, TV, radio, video-tapedan komputer memberi arti tersendiri bagi proses komunikasi antar manusia. Seperti halnya teknologi pada umumnya, teknologi komunikasi tidak mengenal batas-batas wilayah, ideologi, agama, dan suku bangsa, teknologi telah mengurangi secara drastis jarak dalam waktu dan ruang. 

Aplikasi teknologi pendidikan sangat relevan bagi pengelolaan pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar pada khususnya. Aplikasi yang dimaksud yaitu: 

ü Teknologi pendidikan memungkinkan adanya perubahan kurikulum baik strategi, pengembangan maupun aplikasinya. Teknologi pendidikan mempunyai fungsi luas, tidak hanya terbatas pada kebutuhan kegiatan belajar mengajar di kelas melainkan dapat berfungsi sebagai masukan bagi pembinaan dan pengembangan kurikulum yang dikaji secara ilmiah, logis, sistematis dan rasional sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

ü Teknologi pendidikan menghilangkan kalaupun tidak secara keseluruhan pola pengajaran tradisional. Ia berperan penuh dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, meskipun sebenarnya dia tidak dapat menggantikan posisi guru secara mutlak. Guru mempunyai kemampuan yang terbatas dan dengan teknologi pendidikan pulalah keterbatasan itu tertolong. 

ü Teknologi pendidikan membuat pengertian kegiatan belajar menjadi luas, lebih dari hanya sekedar interaksi guru dengan murid di dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas. Teknologi pendidikan dapat dianggap sebagai sumber belajar dan biasanya memberikan rangsangan positif dalam proses pendidikan. 

ü Aplikasi teknologi pendidikan dapat membuat peranan guru berkurang, meskipun teknologi pendidikan tidak mampu menggantikan guru secara penuh. Teknologi pendidikan adalah teknologi pendidikan dan guru adalah guru. 

ü Meskipun demikian bagi guru dan murid, teknologi pendidikan memberikan sumbangan yang sangat positif. 

2.1.5 Analisis Teknologi Pendidikan 

Teknologi pendidikan merupakan suatu cara mengajar dengan menggunakan skill atau keahlian yang dimiliki oleh seorang guru agar dalam proses pembelajaran bisa diterima oleh para peserta didiknya sehingga bisa mencapai pada tujuan pendidikan itu sendiri. Jadi sebenarnya teknologi pendidikan itu tidak seperti halnya yang kita ketahui tentang teknologi pada umumnya yang ada kaitannya dengan masalah-masalah permesinan atau yang lainnya, tetapi dalam masalah teknologi pendidikan itu bisa dikaitkan dengan sebuah cara atau strategi yang dimiliki seorang guru dalam proses pembelajaran baik itu menggunakan media yang ada dalam kelas atau ataupun cara lain agar dalam pembelajaran menjadi mudah diserap oleh para peserta didiknya.. 


2.2 FALSAFAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN 

Yang dimaksud dengan istilah “falsafah” disini adalah rangkaian pernyataan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi, dan sikap seseorang, yang menunjukkan arah atau tujuan diambilnya. Rumusan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ely, dimana seseorang memberikan arti atas suatu gejala seobjektif mungkin. Usaha memberikan arti itu dalam tulisan ini didasarkan oleh pengalaman empirik atas sejumlah data yang diamati, merupakan generalisasi dari berbagai gagasan yang berkaitan dengan rujukan tertentu. 

Januszewski (2008:1) menyatakan bahwa: Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources. (Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi). Sementara itu, Miarso (2009:240) menyatakan ―Teknologi Pendidikan dapat diartikan suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia, melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut. 

Berdasarkan pendapat diatas dapat kita simpulkan Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika prektek yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi dalam rangka untuk memecahkan masalah belajar manusia. 

Semua bentuk teknologi adalah system yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannya akan sarat dengan aturan nilai dan estetika. Teknologi merupakan suatu bidang yang tak terpisahkan dengan ilmu pengetahuan, seperti misalnya teknologi pertanian, teknologi kesehatan, teknologi komunikasi, dan tentunya juga teknologi pendidikan. 

Setiap teknologi, tak terkecuali teknologi pendidikan, merupakan proses untuk menghasilkan nilai tambah, sebagai produk atau piranti untuk dapat digunakan dalam aneka keperluan, dan sebagai sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan untuk suatu tujuan tertentu. 

Berbicara tentang landasan falsafah teknologi pendidikan, maka kita tidak bisa lepas dari filsafat pendidikan karena teknologi pendidikdn merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Adapun filsafat yang dikembangkan akhir-akhir ini, dipengaruhi oleh filsafat analitik sehingga disiplin ilmu pendidikan dalam konteks dasar-dasar pendidikan (foundations of educations) dihubungkan dengan bagian-bagian lain dalam disiplin ilmu pendidikan,yaitu sejarah pendidikan, psikologi pendidikan, dan sosiologi. 

Ada beberapa aliran filsafat yang begitu mempengaruhi filsafat pendidikan sampai saat ini, yakni: 

ü Filsafat analitik, menganalisis serta menguraikan istilsh-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pembelajaran (learning), kemampuan (ability), pendidikan (education), dan sebagainya. 

ü Progresivisme,berpendapat bahwa pendidikan bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan melatih kemampuan dan ketrampilan berpikir dengan memberikan rangsangan yang tepat. 

ü Eksistensialisme, menyatakan bahwa yang menjadi tujuan utama pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka, melainkan agar dapat mengalami secara penuh eksistensi mereka. 

ü Rekonstruksionisme, terutama merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaisans sivilasi modern. Para pendidik rekonstruksionisme melihat bahwa pendidikan dan reformasi sosial sesungguhnya sama. 

Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa implikasi meluasnya cakrawala manusia dalam berbagai bidang pengetahuan sehingga setiapgenerasi penerus harus belajar lebih banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu dirasakan perlunya sistem baru dalam mengkomunikasikan segala macam pengetahuan dan pesan, baik secara verbal maupun non verbal. 


2.3 VISI, MISI, dan TUJUAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN 

2.3.1 Visi Teknologi Pendidikan 

Terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkan dan dimanfaatkannya aneka proses dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai pusat pengembangan iptek pendidikan dan pusat penyiapan teknolog pendidikan/pembelajaran serta pendidik dan tenaga kependidikan yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia. 

2.3.2 Misi Teknologi Pendidikan 

ü Dilakukannya pendekatan integratif dengan semua kegiatan pembangunan dibidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. 

ü Tersedianya tenaga ahli untuk mengelola dan melaksanakan kegiatan. 

ü Diusahakannya pertambahan nilai sosial ekonomi. 

ü Dihindari adanya gejolak negatif. 

ü Dikembangkannya pola dan sistem yang memungkinkan keterlibatan jumlah sasaran maksimal,perluasan pelayanan,dan desentalisasi kegiatan. 

ü Dihasilkannya inovasi sistem pembelajaran yang efektif. 

ü Menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk menghasilkan teknolog pendidikan/pembelajaran, pendidik,dan tenaga kependidikan yang mengusai TIK dan multimedia, unggul dan memiliki daya saing yang tinggi. 

ü Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran untuk menghasilkan karya akademik yang unggul dan menjadi rujukan. 

ü Menerapkan berbagai hasil karya dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran untuk memberdayakan masyarakat. 

2.3.3 Tujuan Teknologi Pendidikan 

ü Menghasilkan teknolog pendidikan/pembelajaran yang mampu merancang, mengembangkan, memanfaatkan dan mengelola serta mengevaluasi program, proses dan produk pendidikan/pembelajaran dan pelatihan. 

ü Menghasilkan tenaga pendidik yang mengusai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia dijenjang pendidikan dasar dan menengah. 

ü Menghasilkan tenaga kependidikan sebagai pengembang kurikulum,pengelola atau teknisi sumber belajar termasuk perpustakaan sekolah,dan tenaga administratif yang menguasai teknologi informasai dan komunikasi. 

ü Menghasilkan karya akademik melalui kegiatan penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi pendidikan/pembelajaran. 

ü Memberdayakan masyarakat melalui penerapan berbagai hasil karya tenologi pendidikan/pembelajaran. 


2.4 KONSEP TEKNOLOGI PENDIDIKAN 

2.4.1 Teori Konsep Teknologi Pendidikan 

Definisi awal Teknologi Pendidikan adalah komunikasi audiovisual. Ely (1963) mengemukakan “Audiovisual communication is that branch of educational theory and practice primarily concerned with the design and use of messages, which control the learning process.” Audiovisual adalah cabang teori pendidikan dan praktik utama terfokus dengan perancangan dan penggunaan pesan, dimana mengatur proses pembelajaran. Konsep ini umumnya memandang Teknologi Pendidikan sebagai sinonim dengan pengajaran dan komunikasi audiovisual. Dari AECT Komite Definisi (1972) “Educational Technology is a field involved in the facilitation of human learning through the systematic identification, development, organization, and utilization of learning resources and through the management of these processes” (AECT 1972). 

Teknologi pendidikan adalah bidang garapan yang dilibatkan dalam memfasilitas belajar manusia melalui indentifikasi sistematis, pengembangan, oraganiasai dan penggunaan sumber belajar dan melalui manajemen dalam prosesnya. Mitchele (1972) menjelaskan Teknologi pendidikan “suatu studi praktek tentang (dalam hal pendidikan) dengan semua aspek organisasi dan potensinya untuk diikuti hasil pendidikan” (Luppicini, R. 2005). Selanjuutnya rumusan pada tahun 1977 Educational technology is a complex and integrated process, involving people, procedures, ideas, devices, and organization for analyzing problems and devising, implementing, evaluating, and managing solutions to those problems, involved in all aspects of human learning (AECT 1977, Luppicini, R. 2005 ).


Teknologi Pendidikan adalah proses yang rumit dan terpadu, melibatkan orang, prosedur, peralatan, dan organisasi untuk megnanalisis dan mengolah masalah, kemudian menerapkan, mengevaluasi dan mengelola pemeahan masalah pada situasi dimana proses belajar terarah dan terpantau. 

Tahun 1994 AECT mengeluarkan definisi lagi yang ditulis oleh Seels dan Richey dalam buku Instructional technology: The definition and domains of the field. Menyebutkan “instructional technology is the thory and practice of design, development, utilization, management, and evaluastion of process and resources for learning”. Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dari perancangan pengembangan, pemanfaatan, manajemen dan evaluasi pada proses dan sumber untuk belajar. 

Definisi terbaru pada tahun 2004 dikeluarkan lagi oleh AECT Instructional Technology yaitu “the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources” (AECT, 2004). Konsep definisi versi AECT 2004, bahwa Teknologi Pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik) dan meningkatkan kinerja. Definisi pada tahun 2008 juga masih sama yang dikeluarkan oleh AECT pada tahun 2004 yang dikemukakan oleh Januszewski, & M. Molenda pada buku Definition. In A. Januszewski, & M. Molenda (Eds.), Educational Technology: A Definition with Commentary. 

Konsep teknologi pendidikan telah berkembang sepanjang bidang dimiliki, dan mereka terus berkembang. Dalam konsep hari ini, Teknologi Pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu konsep abstrak atau sebagai bidang praktik atau garapan. 

(Sumber Konsep Teknologi Pendidikan : Siyamta, MT. – Teknologi Pendidikan Sebagai Bidang Garap Menurut AECT 1994 – “KONSEP TEKNOLOGI PENDIDIKAN” | ITB) 

2.4.2 Perkembangan Kerangka Konsep Teknologi Pendidikan 

Istilah teknologi berasal dari kata textere (bahasa latin) yang artinya “to weave or construct”, menenun atau membangun. Teknologi tidak selamanya harus menggunakan mesin sebagaimana terbayangkan dalam pikiran kita selama ini, akan tetapi merujuk pada setiap kegaiatan praktis yang menggunakan ilmu atau pengetahuan tertentu. Bahkan disbeutkan bahwa teknologi itu merupakan usaha untuk memecahkan masalah manusia (Salisbury, 2002). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Romiszoewski (1981, h.11) menyebutkan bahwa teknologi berkaitan dengan produk dan proses. Sedangkan Roger ( 1986, h.1) mempunyai pandangan bahwa teknologi biasanya menyangkut aspek perangkat keras (terdiri dari material atau objek fisik), dan aspek perangkat lunak (terdiri dari informasi tang terkandung dalam perangkat keras). Didasarkan atas pemahaman-pemahaman tersebut secara gamblang Salisbury (2002, 7) mengungkapkan bahwa teknologi adalah penerapan ilmu atau pengetahuan yang terorganisir secara sistematis untuk penyelesaian tugas-tugas secara praktis. 

Penggunaan istilah teknologi dalam pendidikan tidak terlepas dari kajian Finn ( 960) pada seminar tentang peran teknologi dalam masyarakat, dengan judul makalahnya “Technology and the Intructional Procsess”. Melalui makalahnya dikaji antara hubungan teknologi dengan pendidikan. Argument utama yang disampaikannya didasarkan atas gejala pemanfaatan teknologi dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kemiripandengan kondisi yang terdapat dalam pendidikan. Oleh karena itu, penggunaan istilah teknologi yang digandengkan dengan pendidikan merupakan suatu hal yang tepat dan wajar. 

Lumsdaine (1964) dalam Romiszoswki (1981 :12) menyebutkan bahwa penggunaan istilah teknologi pada pendidikan memiliki keterkaitan dengan konsep produk dan proses. Konsep produk berkaitan dengan perangkat keras atau hasilhasil produksi yang dimanfaatkan dalam proses pengajaran. Pada tahapan yang sederhana jenis teknologi yang digunakan adalah papan tulis, bagan objek nyata, dan model-model sederhana. Pada tahapan teknologi menengah digunakannya OHP, slide, film proyeksi, peralatan elektronik yang sederhana untuk pengajaran, dan peralatan proyeksi (LCD). Sedangkan tahapan teknologi yang tinggi berkiatan dengan penggunaan paket-paket yang kompleks seperti belajar jarak jauh yang menggunakan radio, televise, modul, computer assisted instruction, serta pengajaran atau stimulasi yang komplek, sistem informasi dial acces melalui telepon dan sebagainya. Penggunaan perangkat keras ini sejalan dengan perkembangan produk industry dan perkembangan masyarakat, seperti e-learning yang memanfaatkan jaringan internet untuk kegiatan pembelajaran.konsep proses atau perangkat lunak, dipusatkan pada pengembangan substansi pengalaman belajar yang disusun dan diorganisir dengan menerapkan pendekatan ilmu untuk kepentingan penyelenggaraan program pembelajaran. Pengembangan pengalaman belajar ini diusahakan secara sistematik dan sistematis dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Konsep proses dan konsep produk pada hakekatnay tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemberian pengalaman belajar optimal kepada peserta didik. Pengembangan program belajar diawali dengan analisis tingkah laku (tingkah laku yang perlu dipelajari dan keadaan tingkah laku belajar peserta didik) yang perlu dikuasai peserta didik dalam proses belajar dan pelahiran tingkah laku setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tahapan analisis tingkah laku ilmu atau sejumlah pengetahuan untuk mengungkap kemampuan yang harus dimiliki calon peserta didik, disamping kemampuan yang harus diinginkannya untuk memperoleh kemamapuan hasil belajar. Romiszwoski (1986 : 15-17) memasukkan kegiatan tersebut kedalam istilah “behavioral technology”. Selanjutnya, kemampuan-kemampuan hasil analisis dikembangkan ke dalam pengembangan program pembelajaran yang terpilih, atau tahapan “instructional rechnology”. Konsep dan prinsip teknologi pembelajaran kemudian diperkaya oleh ahli-ahli bidang Psikologi, seperti Bruner (1966), dan Gagne (1974), ahli Cybernetic seperti Landa (1976), dan Horn (1969) serta lembagalembaga pendidikan pendidikan yang memiliki ketertarikan atas pengembangan program pembelajaran. Walaupun teknologi pembelajaran termasuk masih premature, akan tetapi usaha pengembangannya terus dilakukan secara kreatif dan teliti sehingga mampu memecahkan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran, sampai kepada hal-hal mikro dalam tahapan tingkah laku belajar peserta didik. 

Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memcahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilkaukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar. 

2.4.2 Sejarah Perkembangan Konsep Teknologi Pendidikan 

Didasarkan atas pendekatan historik, Januszewski (2001: 2-15) mengungkapkan bahwa tahap awal sebagai pengantar kearah pengembangan konsep dan istilah teknologi pendidikan dilandasi dan dipertajam oleh tiga faktor berikut : pertama, engineering (Bern, 1961 : Szabo, 1968); kedua, science (Finn, 1953;Ely, 1970; Jorgenson, 1981; Saettler, 1990; Shorck, 1990), dan ketiga, the development of the Audio Visual education movement (Ely, 1963; Ely 1970; Jogerson, 1981; Saettler, 1990; Shrock, 1990). Dari hasil kajiannya menunjukkan bahwa teknologi pendidikan memiliki keterkaitan dan saling keterrgantungan dengan ketiga faktor tersebut (engineering science dan audiovisual education). 

Dalam kaitannya dengan engineering pengkajian diawali dari makna engineering yang menggambarkan kegiatan riset dan pengembangan serta usaha menghasilkan teknologi untuk digunakan secara praktis, yang kebanyakan terdapat di bidang industry. Saettler (1990) menyatakan bahwa Franklin Bobbit dan W.W. Charters menjadi perintis penggunaan istilah “educational engineering” pada tahun 1920-an, khususnya pada pendekatan yang digunakan untuk pengembangan kurikulum. Penggunaan istilah engineering ini digunakan pula oleh Munroe (1912) dalam mengikat konsep ilmu management dalam setting pendidikan dan educational engineering. Munroe beralasan bahwa istilah beralasan bahwa istilah educational engeering diperlukan dalam mengkaji tentang usaha memasuki kehidupannya, mana yang lebih baik, mana yang harus dihindari, persyaratan apa yang perlu dipersiapkan, dimana dan mengapa mereka mengalami ketidakberhasilan. Charters (1941) yang dinyatakan T.J Hoover dan J.C.L Fish mengungkapkan bahwa engineering adalah kegiatan professional dan sistematik dalam mengaplikasikan ilmu untuk memanfaatkan sumber alam secara efesien dalam meng-hasilkan kesejahteraan. 

Selanjutnya dari hasil diskusi antara konsep engineering yang diungkapkan Charters dan konsep teknologi yang dikembangkan Noble menghasilkan empat kesamaan, yaitu ; 1) keduannya memerlukan usaha yang sistematik; 2) keduannya menyatakan aplikasi ilmu; 3) keduanya menekankan pada efesiensi pemanfaatan sumber; dan 4) tujuan dari keduannya adalah untuk memproduksi sesuatu. Dalam penerapannya pada pendidikan, digambarkan bahwa usaha sistematik perlu dilakukan setiap teknologi pendidikan dalam setiap mengembangkan program, dan dalam penyelenggara pembelajaran. Dalam kaitannya dengan aplikasi ilmu, Charters menyatakan bahwa ilmu merupakan dasar dalam pendidikan, dan setiap usaha dalam pendidikan perlu dilandasi oleh kejelasan ilmu yang digunakan. Untuk hsal tersebut, diyakini bahwa adannya titik yang sama antara educational engineering dengan industrial engineering keduanya menggunakan metode riset yang dilandasi oleh dasar keilmuan. 

Selanjutnya, penyelenggara pendidikan perlu menetapkan efesiensi dalam setiap usaha yang dilkukanya, pengajar perlu menetapkan bagaimana cara yang efesien supaya peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang maksimal. Dalam kaitannya dengan memproduksi setiap program pembelajaran pada hakekatnya ditujukan untuk memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik secara maksimal sehingga masalah belajar dapat terpecahkan. 

Perkembangan selanjutnya adalah termasuk “fase permulaan” disusunnya konsep teknologi pendidikan secara sistematis, berlangsung pada tahun 1963 dengan bercirikan pergeseran audiovisual kearah teknologi pendidikan. Pada masa ini mulai disusun defenisi secara formal teknologi pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh AECT, walaupun perumusan defenisinya masih kental dengan kandungan audiovisual communication. Formulasi defenisi yang disusun dengan berfokus pada pemahaman bahwa teknologi pendidikan adalah teori dan reorientasi konsep yang membedakannya dengan konsep audiovisual. 

Keterkaitan teori belajar ini terus dikaji oleh para ahli teknologi pendidikan, sehingga tidak hanya psikologi behavior saja yang memiliki kontribusi terhadap teknologi pendidikan akan tetapi bergeser kearah psikologi kognitif sebagaimana dikembnagkan oleh Robert M. Gagne (The Conditions of Learning and theory of instruction, 1916). Kedudukan teori belajar dijadikan sumber inspirasi di dalam pengembangan model pembelajaran, terutama di dalam penetapan tingkah laku yang harus dikuasai peserta didik, karakteristik peserta didik, kondisi-kondisi pembelajaran yang harus dirancang, beserta berbagai fasilitas belajar yang dapat memperkuat pengalaman belajar peserta didik. Kajian teaching machine and programmed instruction dilakukan melalui studi science in education ( Skinner, 1954; Saettler, 1990), gerakan efesiensi pendidikan ( Stolurow, 1961; Dale, 1967; Saettler, 1990). Walaupun teaching machine ini sangat popular dan diawali kajiannya oleh Skinner akan tetapi E L Thorndike (1912) yang mulai mengembangkan konsep kearah pemanfaatan teaching dan programmed instruction ( Dale, 1967; Ely 1970; Saettler, 1990). Dasar-dasar pemahaman teaching machine programmed instruction diantaranya pemahaman tentang perbedaan individual, pengorganisasian pembelajaran dan hasil penilaian hasil belajar. 

Konsep yang berkembang pada masa permulaan terus dikaji ulang dan disesuaikan dengan perkembangan pemanfaatan audiovisual dalam pendidikan. Hasil kajian tahun 1965 melahirkan adannya beberapa pilihan, yaitu; 1) dimungkinankan untuk menggunakan kembali label audiovisual; 2) merubah nama audiovisual menjadi educational communication; 3) merubah nama audiovisual menjadi learning resources; 4) merubah nama audiovisual menjadi instruction technology or educational technology. Sejalan dengan perubahan Departement of Audiovisual Instruction (DAVI) menjadi Assocaition for Educational Communication and Technology (AECT), maka secara serempak bidang kajian audiovisual berubah menjadi Instructional techlogoy atau educational technology. Bahkan mencakup kajian educational communication. Silber (1972), mnegungkapkan bahwa perubahan ini memiliki implikasi terhadap cakupan pekerjaan educational technology yang akan menghasilkan keanekaragaman program dan rancangan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. 

Terdapat tiga konsep utama yang memrikan kontribusi terhadap perumusan defenisi versi tahun 1972 sehingga teknologi pendidikan dijadikan sebagai kajian, yaitu; 

ü keluasan pemaknaan learning resources; 

ü kontribusi program individual or personal instruction, 

ü pemanfaatan system approach. 

Ketiga konsep ini digabungkan ke dalam suatu pendekatan untuk memfasilitasi belajar, menciptakan keunikan dan memiliki alasan untuk kepentingan pengembangan dalam bidang teknologi pendidikan. 

Perubahan dari AV communications ke teknologi pendidikan yang berlangsung pada tahun 1972 melahirkan defenisi teknologi pendidikan versi 1972 yang mengarah pada suatu bidang kajian dalam pendidikan. Konsep yang terkandung dalam memaknai teknologi pendidikan ini terus dikritisi para ahli pendidikan dan dihasilkan pemahaman bahwa teknologi pendidikan itu merupakan suatu proses bukan hanya untuk bidang kajian saja, bahkan termasuk teori dan profesi teknologi pendidikan. Secara konsep perkembangan kajian ini melahirkan defenisi versi 1977 yang didukung oleh tiga konsep utama yaitu : learning resources, management, dan pengembangan. 

Association of Educational and Communication Technology (AECT) pada tahun 1977 menerbitkan buku the defenition Of educational technology yang mengungkapkan: 1) hasil analisis yang sistematis dan menyeluruh tentang ide dan konsep bidang teknologi pendidikann; dan 2) keterkaitan antara ide dan konsep yang satu dan lainnya. Buku tersebut mengungkapkan sejarah dari bidang kajian, alasan perumusan defenisi, kerangka teoritis yang melandasi defenisi, diskusi mengenai aplikasi praktis, kode etik profesi organisasi, dan glossary peristilahan yang memiliki keterkaitan dengan defenisi. Termasuk bahasan yang menjawab kontroversi antara istilah educational technology dan instructional technology sebagai bagian “subset” dari educational technology yang merupakan realitas pengajaran dalam pendidikan. 

Heinich (1970) memiliki konsep bahwa manajemen telah dikembangkan bersamaan dengan prinsip-prinsip sistem di dalam merancang pembelajaran bahkan konsepnya sejalan dengan pendapat Hoban (1965) walaupun dalam peristilah yang berbeda. Ia menyebutnya dengan istilah “management of instruction”, sedangkan Hoban menggunakan istilah “management of learning”. Menurutnya bahwa management of instruction tidak hanya mengembangkan dan menggunakan. 


2.5 KAWASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN 

Kawasan merupakan suatu realisasi dari defenisi dari bidang teknologi pembelajaran. Rumusan kawasan yang dikembangkan dalam disiplin teknologi pendidikan dan pembelajaran disiapkan melalui rumusan AECT tahun 1977 dan 1994. Kedua defenisi tersebut menghasilkan kawasan sesuai dengan rumusan defenisi. Tahun 1977 satgas dari AECT menghasilkan dua defenisi yang secara khusus membedakan antara teknologi pembelajaran. 

Dengan demikian,tahun 1977 menghasilkan dua defenisi dan dua kawasan,teknologi pendidikan dan Teknologi pembelajaran. Defenisi sebelumnya,yaitu tahun 1963 dan 1972 tidak menghasilkan kawasan. Pada masa tersebut,para ahli sedang berusaha membentuk konsep yang lebih mendalam dan bermanfaat bagi perkembangan disiplin teknologi pendidikan. 

Definisi AECT tahun 1994 hanya menelurkan satu defenisi yaitu teknologi pembelajaran,kawasan yang dimunculkan pun hanya satu yaitu kawasan teknologi pembelajaran. Namun dalam penjelasannya,defenisi tersebut memilah antar teori dan praktek. Teori yang disebut sebagai rujukan dan acuan dari seluruh kegiatan terkait pembelajaran,sedangkan praktik atau terapan menyediakan kesempatan untuk memvalidasi teori,selanjutnya teori ini dapat dikaji ulang dan diperbaiki. Dengan demikian,terjadi simbiosis mutualisme antara peran teori bagi terapan atau praktik dalam bidang teknologi pembelajaran.Terapan atau praktik akan dijelaskan dibagian lain dalam kegiatan belajar ini. 


2.5.1 Kawasan Desain 

Kawasan pertama teknologi pembelajaran adalah desain atau perancangan yang mencakup penerapan berbagai teori, prinsip dan prosedur dalam melakukan perencanaan atau mendesain suatu program atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara sistemik dan sistematik. Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk (Seels & Richey, 2000 dalam Bambang Warsito, 2008: 22). Strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro, seperti pelajaran dan modul. 

Kawasan desain mempunyai asal-usul dari gerakan psikologi pembelajaran. Beberapa faktor pemicunya adalah : 

ü Artikel tahun 1954 dari B.F. Skinner “The Science of Learning and the Art of Teaching” disertai teorinya tentang pembelajaran berprogram. 

ü Buku tahun 1969 dari Herbert Simon “The Science of Artificial” yang membahas karakteristik umum dari pengetahuan preskriptif tentang desain; dan 

ü Pendirian pusat-pusat desain bahan pembelajaran dan terprogram, seperti "Learning Resouce and Development Center" di Universitas Pittsburgh pada tahun 1960an. 

Aplikasi teori sistem dalam pembelajaran melengkapi dasar psikologi pembelajaran tersebut. Melalui James Finn dan Leonard Silvern, pendekatan sistem pembelajaran secara bertahap mulai berkembang menjadi suatu metodologi dan mulai memasukkan gagasan dari psikologi pembelajaran. 

Perhatian terhadap desain pesan pun berkembang selama akhir 1960-an dan pada awal 1970-an. Kolaborasi Robert Gagne dengan Leslie Briggs telah menggabungkan keahlian psikologi pembelajaran dengan bakat dalam desain sistem yang membuat konsep desain pembelajaran menjadi semakin hidup. 

Kawasan desain ini meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu: (1) desain sistem pembelajaran; (2) desain pesan; (3) strategi pembelajaran; dan (4) karakteristik pembelajar. 

2.5.2 Kawasan Pengembangan 

Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Kawasan pengembangan mencakup banyak variasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran. Walaupun demikian, tidak berarti lepas dari teori dan praktek yang berhubungan dengan belajar dan desain.Tidak pula kawasan tersebut berfungsi bebas dari penilaian, pengelolaan atau pemanfaatan.Melainkan timbul karena dorongan teori dan desain dan harus tanggap terhadap tuntutan penilaian formatif dan praktek.Pemanfaatan serta kebutuhan pengelolaan.Begitu pula, kawasan pengembangan tidak hanya terdiri dari perangkat keras pembelajaran, melainkan juga mencakup perangkat lunaknya, bahan-bahan visual dan audio, serta program atau paket yang merupakan paduan berbagai bagian. 

Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong baik desain pesan maupun strategi pembelajaran. Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya : 

ü pesan yarig didorong oleh isi; 

ü strategi pembelajaran yang didorong oleh teori; dan 

ü manifestasi ilsik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran. 

Ciri yang terakhir ini, yaitu teknologi.merupakan tenaga penggerak dari kawasan pengembangan. Berangkat dari asumsi ini, kita dapat merumuskan dan menjelaskan berbagai jenis media pembelajaran dan karakteristiknya. Akan tetapi, janganlah proses ini diartikan hanya sebagai suatu pengkategorisasian. Sebaliknya, sebagai elaborasi dari karakteristik prinsip-prinsip teori dan desain yang dimanfaatkan oleh teknologi. 

Kawasan pengembangan dapat diorganisasikan dalam empat kategori : 

ü teknologi cetak (yang menyediakan landasan untuk kategori yang lain), 

ü teknologi audiovisual, 

ü teknologi berbasis komputer, dan 

ü teknologi terpadu. 

Karena kawasan pengembangan mencakup fungsi-fungsi desain, produksi, dan penyampaian, maka suatu bahan dapat didesain dengan menggunakan satu jenis teknologi, diproduksi dengan menggunakan yang lain, dan disampaikan dengan menggunakan yang lain lagi. 

2.5.3 Kawasan Pemanfaatan 

Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung-jawab untuk mencocokkan pebelajar dengan bahan dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pebelajar agar dapat berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pebelajar, serta memasukkannya ke dalam prosedur organisasi yang berkelanjutan. 

Fungsi pemanfaatan penting karena membicarakan kaitan pebelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.Jelas fungsi ini sangat kritis karena penggunaan oleh pebelajar merupakan satu-satunya raison d‘etre dari bahan pembelajaran. Mengapa kita hams bersusah-payah dengan pengadaan dan pembuatan bahan apabila tidak akan digunakan ?Kawasan pemanfaatan ini mempunyai jangkauan aktivitas dan strategi mengajar yang luas. 

Dengan demikian pemanfaatan menuntut adanya penggunaan, deseminasi.difusi, implementasi, dan pelembagaan yang sistematis. Hal tersebut dihambat oleh kebijakan dan peraturan.Fungsi pemanfaatan penting karena fungsi ini memperjelas hubungan pebelajar dengan bahan dan sistem pembelajaran. 

Keempat kategori dalam kawasan pemanfaatan ialah : 

ü pemanfaatan media, 

ü difusi inovasi, 

ü implementasi dan institusionalisasi (pelembagaan), 

ü serta kebijakan dan regulasi 


2.5.4 Kawasan Pengelolaan 

Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang teknologi Pembelajaran dan dari peran kebanyakan para teknolog pembelajaran. Secara perorangan tiap ahli dalam bidang ini dituntut untuk dapat memberikan pelayanan pengelolaan dalam berbagai latar.seorang teknolog pembelajaran mungkin terlibat dalam usaha pengelolaan projek pengembangan pembelajaran atau pengelolaan pusat media sekolah. 

Tujuan yang sesungguhnya dari pengelolaan kasus demi kasus dapat sangat bervariasi, namun keterampilan pengelolaan yang mendasarinya relatif tetap sama apapun kasusnya. 

Kawasan pengelolaan semula berasal dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli perpustakaan media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non-cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumber-sumber teknologikal dalam kurikulum. Pada tahun 1976 Chisholm dan Ely menulis buku Media Personnel in Education: A Competency Approach yang menekankan bahwa administrasi program media memegang peran sentral dalam khasanah teknologi pembelajaran. 

Definisi AECT tahun 1977 membagi fungsi pengelolaan dalam pengelolaan organisasi dan pengelolaan personil, seperti halnya yang dilakukan oleh para administrator dari program dan pusat media.Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran ilalui perencanaan.pengorganisasian. pengkoordinasian dan supervisi. 

Pengelolaan biasanya merupakan hasil dari penerapan atu sistem nilai. Kerumitan dalam mengelola berbagai macam sumber, personil, usaha desain maupun pengembangan akan semakin meningkat dengan membesarnya usaha dari sebuah sekolah atau bagian kantor yang kecil menjadi kegiatan pembelajaran berskala nasional atau menjadi perusahaan multi-nasional dengan skala global. 

Terlepas dari besamya program atau proyek Teknologi Pembelajaran yang ditangani. salah satu kunci keberhasilan yang esensial adalah pengelolaan. Perubahan jarang terjadi hanya pada tingkat pembelajaran yang mikro.Untuk menjamin keberhasilan dari tiap intervensi mbelajaran, proses perubahan perilaku kognitif maupun afektif harus terjadi bersamaan dengan perubahan pada tingkat makro. 

Para manager program dan projek Teknologi Pembelajaran yang mencari mber tentang cara bagaimana merencanakan dan mengelola berbagai model perubahan pada tingkat makro, pada umumnya akan mengalami kekecewaan. (Greer, 1992; Hannum dan Hansen, 1989; smiszowski, 1981 ). Secara singkat,Ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan : 

ü pengelolaan proyek, 

ü pengelolaan sumber, 

ü pengelolaan sistem penyampaian dan 

ü pengelolaan informasi. 

Di dalam setiap subkategori tersebut ada seperangkat tugas yang sama yang harus lakukan. Organisasi harus dimantapkan, personil harus diangkat dan supervisi.dana harus direncanakan dan dipertanggungjawabkan, dan fasilitas harus dikembangkan serta dipelihara. 

2.5.5 Kawasan Penilaian 

Penilaian ialah proses penentuan memadai tidabiya pembel-ajaran dan belajar. Penilaian mulai dengan analisis masalah.Ini merupakan langkah awal yang penting dalam pengembangan dan penilaian pembelajaran karena tujuan dan hambatan dijelaskan pada langkah ini. 

Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, penilaian projek dan penilaian produk.Masing-masing merupakan jenis penilaian penting untuk perancang pembelajaran, seperti halnya penilaian formatif dan penilaian sumatif. Menurut Worthen dan Sanders (1987):Penilaian merupakan penenluan nilai dari suatu barang. 

Dalam pendidikan, hal itu berarti penentuan secara formal mengenai kualitas. efektivitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan, atau kurikulum. Penilaian menggunakan metoda inkuiri dan pertimbangan, termasuk : 

ü penentuan standar untuk mempertimbangkan kualitas dan menentukan apakah standar tersebut harus bersifat relatif atau absolut; 

ü pengumpulan informasi; dan 

ü menerapkan penggunaan standar untuk menentukan kualitas. 

Seperti terlihat pada konsep dasar dari kata ‗penilaian‘, kunci konsep tersebut terletak pada penentuan ‗nilai‘.Bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara teiiti, akurat, dan sistematis merupakan urusan bersama antara evaluator dan klien.Suatu cara yang penting untuk membedakan penilaian ialah dengan mengklasifikasikannya menurut obyek yang sedang dinilai. Pembedaan yang lazim ialah menurut program, proyek, dan produk bahan. 


PENUTUP 


3.1 KESIMPULAN 

Perkembangan ilmu dan teknologi merupakan salah satu hasil produktivitas dari manusia yang memiliki pengetahuan yang didapat dari pendidikan. Dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki implikasi yang luas dalam kehidupan manusia sehingga diharapkan manusia-manusia tersebut perlu mendalami untuk mengambil manfaatnya secara optimal dan mereduksi implikasi negatif yang ada. Teknologi Pendidikan hanya mungkin dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik bilamana ada tenaga yang menanganinya. 

Sebagai salah satu disiplin ilmu, teknologi pendidikan juga berorientasikan kepada perubahan (perkembangan) cara hidup dan kebutuhan manusia. Inilah yang menyempurnakan teknologi pendidikan setaraf dengan disiplin ilmu lainnya, dengan perubahan konsep teknologi pendidikan telah terjadinya perubahan paradigma dalam batang tubuh teknologi pendidikan. Paradigma tersebut merupakan cara pandang teknologi pendidikan terhadap perkembangan manusia. 

Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar. Belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu ada usaha dan produk yang sengaja dibuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. 

Dengan paradigma dan trend seperti ini, sudah sepantasnya sumber daya teknologi pendidikan menjadi prioritas dalam pengembangan pembelajaran di lembaga atau instansi manapun yang mengadakan kegiatan pembelajaran dan para sumber daya teknologi pendidikan akan memiliki potensi berkarya yang tidak terbatas, baik pada institusi formal (lembaga pendidikan) maupun di lembaga lainnya. 

Tentunya pemerintah dan pihak-pihak yang lain sudah waktunya melirik teknologi pendidikan sebagai faktor yang potensial, dimana ketika ingin memperbaiki kualitas manusia melalui pembelajaran, maka teknologi pendidikan merupakan solusi paling tepat. 

3.2 SARAN 

Tim Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, kedepannya penyusun akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Oleh karna itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. 


DAFTAR PUSTAKA 


1. Siyamta, MT. 2013, Teknologi Pendidikan Sebagai Bidang Garap Menurut AECT 1994, Malang, Institut Teknologi Bandung. (Ebook) 

2. Drs. Syafril, M.Pd. dan Dra.Eldarni, M.Pd., 2013, Pengantar Teknologi Pendidikan, Padang, Universitas Negeri Padang. (Ebook) 

3. Corry Purba, Konsep Teknologi Pendidikan di Indonesia, Pematangsiantar, Universitas Simalungun. (Jurnal)

0 Response to "Teknologi Pendidikan"

Post a Comment