Teori Belajar dan Pembelajaran Behavioristik


TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK 


A. Pendahuluan 

1. Latar Belakang

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk menghasilkan suatu perubahan diri. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari bersikap buruk menjadi bersikap baik, dan tidak terampil menjadi terampil. Sedangkan pembelajaran adalah suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Pada zaman sekarang ini, telah kita ketahui bahwa para pelajar khususnya mereka yang menginjak usia remaja sering kali melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan diusianya, seperti halnya merokok. Hal tersebut bisa terjadi karena lingkungan sekitarnya yang banyak perokok. Tidak sedikit dari mereka yang mulai merokok pada saat usia remaja atau ketika masih duduk di bangku sekolah. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dengan kata lain kita harus menghentikan itu semua, salah satuya dengan cara mengetahui pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat agar dapat memilih strategi pembelajaran yang bagus.

Salah satu teori pembelajaran yang dapat kita terapkan kepada siswa adalah teori behavioristik. Dengan mempelajari teori behavioristik, kita dapat mengetahui cara mengajar yang baik agar peserta didik tidak melenceng ke arah yang tidak seharusnya.


2. Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan teori belajar behavioristik?

b. Bagaimana pengaplikasian teori behavioristik dalam dunia pendidikan?

3. Tujuan

a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan teori behajar behavioristik.

b. Mengetahui pengaplikasian teori behavioristik dalam dunia pendidikan?

Baca : Krisis Ekonomi 1998


B. Pembahasan 

1. Teori Behavioristik

a. Pengertian

Teori behavioristik adalah teori yang mempelajari tentang perilaku manusia. Teori behavioristik fokus dalam menjelaskan tingkah laku manusia melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan respons hukum-hukum mekanistik. Menurut teori ini bahwa tingkah laku adalah sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Maksudnya, seseorang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, dan menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah. Seseorang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Karena semua tingkah laku yang baik bermanfaat ataupun yang merusak, merupakan tingkah laku yang dipelajari.

Pendekatan psikologi ini mengutamakan pengamatan tingkah laku dalam
mempelajari individu dan bukan mengamati bagian dalam tubuh atau mencermati penilaian orang tentang penasarannya. Behaviorisme menginginkan psikologi sebagai pengetahuan yang ilmiah, yang dapat diamati secara obyektif. Data yang didapat dari observasi diri dan intropeksi diri dianggap tidak obyektif. Jika ingin menelaah kejiwaan manusia, amatilah perilaku yang muncul, maka akan memperoleh data yang dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya. Jadi, behaviorisme sebenarnya adalah sebuah kelompok teori yang memiliki kesamaan dalam mencermati dan menelaah perilaku manusia yang menyebar di berbagai wilayah, selain Amerika teori ini berkembang di daratan Inggris, Perancis, dan Rusia. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam teori ini meliputi E.L.Thorndike, I.P.Pavlov, B.F.Skinner, J.B.Watson, dll.

1) Thorndike

Menurut Thorndike (1911), salah seorang pendiri aliran tingkah laku, teori
behavioristik dikaitkan dengan belajar adalah proses interaksi antara stimulus
(yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons (yang juga berupa
pikiran, perasaan, dan gerakan). Jelasnya menurut Thorndike, perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang non-konkret (tidak bisa diamati).

2) Ivan Petrovich Pavlov

Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap hewan anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Dari contoh tentang percobaan dengan hewan anjing bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara dengan mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

3) John B. Watson

Menurut Watson pelopor yang datang sesudah Thorndike, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable). Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.

4) Frederic Skinner

Menurut Skinner respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan. Sedangkan respons yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa.

Oleh karena itu, untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, diperlukan pemahaman terhadap respons itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut (lihat bel-Gredler, 1986). Skinner juga memperjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, apabila dikatakan bahwa seorang siswa berprestasi buruk sebab siswa ini mengalami frustasi akan menuntut perlu dijelaskan apa itu frustasi. Penjelasan tentang frustasi ini besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain. Begitu seterusnya.

b. Tahap-tahap Perkembangan Behavioristik

Fakta penting tentang perkembangan ialah bahwa dasar perkembangan adalah kritis. Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun pertama, menentukan seberapa jauh individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan mereka selanjutnya. Menurut Erikson (Hurlock, 1980: 6) berpendapat bahwa masa bayi merupakan masa individu belajar sikap percaya atau tidak percaya, bergantung pada bagaiamana orang tua memuaskan kebutuhan anaknya akan makanan, perhatian, dan kasih sayang . Pola-pola perkembangan pertama cenderung mapan tetapi bukan berarti tidak dapat berubah. Ada 3 kondisi yang memungkinkan perubahan :

1) perubahan dapat terjadi apabila individu memperoleh bantuan atau bimbingan untuk membuat perubahan.

2) perubahan cenderung terjadi apabila orang-orang yang dihargai memperlakukan individu dengan cara yang baru atau berbeda (kreatif dan tidak monoton).

3) apabila ada motivasi yang kuat dari pihak individu sendiri untuk membuat perubahan.

Dengan mengetahui bahwa dasar-dasar permulaan perkembangan cenderung menetap, memungkinkan orang tua untuk meramalkan perkembangan anak dimasa yang akan datang. Penganut aliran lingkungan (behavioristk) yakin bahwa lingkungan yang optimal mengakibatkan ekspresi faktor keturunan yang maksimal. Proses perkembangan itu berlangsung secara bertahap, dalam arti:

1) bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat atau mendalam atau meluas secara kualitatif maupun kuantitatif. (prinsip progressif).

2) bahwa perubahan yang terjadi antar bagian dan atau fungsi organisme itu terdapat interpedensi sebagai kesatuan integral yang harmonis. (prinsip sistematik).

3) bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan dan tidak kebetulan dan meloncatloncat.(prinsip berkesinambungan).

c. Ciri-ciri teori belajar behavioristik :

1) mementingkan pengaruh lingkungan.

2) mementingkan bagian-bagian (elementalistik).

3) mementingkan peranan reaksi..

4) mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar.

5) mementingkan sebab-sebab di waktu yang lalu.

6) mementingkan pembentukan kebiasaan.

7) dalam pemecahan problem, ciri khasnya “trial and error”.

Baca : Kreativitas di Sekolah

2. Aplikasi Teori Behavioristik

a. Penerapan prinsip behavioristik dalam pendidikan

Adalah pada strategi penguasaan pembelajaran yang didasarkan pada sifat kumulatif pembelajaran. Hal ini menyatakan secara tegas bahwa setiap siswa harus menguasai setiap unit kurikulum pada tingkat minimum sebelum melanjutkan ke unit baru dengan tingkat yang lebih tinggi (Behaviorism and Cognitivism in Education, p.43).

b. Penerapan Teori Pengkondisian Klasik Dalam kelas

Melalui proses pengkondisian klasik, manusia dan binatang dapat belajar memberikan respon secara otomatis kepada satu stimulus yang pada ketika tidak memiliki efek ataupun memiliki satu efek yang sangat berbeda pada mereka. Respon yang dipelajari mungkin merupakan reaksi emosional, seperti takut atau senang, atau respon psikologis, seperti ketegangan otot. Respon tak sengaja ini pada dasarnya dapat dikondisikan, atau dipelajari, sehingga akan tampak otomatis dalam situasi-situasi tertentu. Dengan melihat pada eksperimen awal mengenai pengkondisian klasik akan membatu membuat jenis proses pembelajaran di kelas. Anda mungkin heran apa hubungan keluarnya air liur anjing dengan pembelajaran di kelas. Terdapat sejumlah alasan mengapa penelitian yang dilakukan dengan binatang dapat diakui. Dengan menggunakan binatang kemungkinan untuk mengisolasi efek beberapa variable pada proses pembelajaran. Juga, binatang tidak memiliki kekhawatiran mengenai seberapa baik mereka melakukan atau mencoba untuk lebih memintari peneliti, yang merupakan cara yang sering dilakukan oleh manusia.

Temuan Pavlov dan mereka yang mengkaji pengkondisian klasik setidaknya memiliki dua implikasi bagi guru. Pertama, tidak mungkin bahwa banyak dari reaksi emosi kita atas berbagai situasi dipejari secara khusus dengan pengkondisian klasik. Kedua, prosedur yang didasarkan pada pengkondisian klasik dapat digunakan untuk membantu orang mempelajari respon emosional yang lebih adaptif. Contoh, orang dapat belajar untuk mengurangi ketakutan dan kegelisahan dalam situasi yang mengancamnya, seperti berbicara di depan umum atau mengerjakan tes. Emosi dan sikap juga fakta dan ide dipelajari di kelas, dan kadangkala pembelajaran emosional ini dapat masuk dalam pembelajaran akademis. Beberapa contoh pengkondisian klasik dalam kelas. Contoh yang tidak diinginkan oleh semua orang yaitu seorang pelajar takut atau benci sekolah setelah mengalami pengalaman menakutkan di sekolah. Atau contoh lain yang diinginkan. Ketika seorang siswa sering mengalami keberhasilan di sekolah, maka mereka mungkin akan memberikan respon pada tugas belajar baru dengan penuh percaya diri bukan gelisah. Siswa yang relative berhasil dalam pembelajaran aljabar biasanya akan menghadapi subjek baru seperti geometri dengan sikap yang lebih santai. Sebaliknya siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran al-jabar akan berkeringat dingin ketika meghadapi pelajaran geometri.

c. Koneksionisme Thorndike (Thorndike’s Connectionism)

Pandangan Edwar Lee Thorndike (1874-1949) mengenai pembelajaran yakni bahwa semua pembelajaran dijelaskan melalui hubungan atau ikatan yang dibentuk antara stimulus dan respon. Hubungan-hubungan ini muncul lebih utama melalui trial dan error (coba dan gagal), yaitu suatu proses yang oleh kemudian hari disebut oleh Thorndike sebagai koneksionisme atau belajar melalui seleksi dan hubungan. Thorndike merumuskan hukum belajar yang tidak fleksibel, melainkan aturan-aturan agar belajar nampak dipatuhi. Dia mengutarakan tiga hukum belajar utama yaitu hukum kesiapsiagaaan (law of readiness), Hukum latihan (law of exercise ), Hukum pengaruh ( law of effect). Ketiga Hukum ini diterapkan langsung dalam pendidikan.

1) Hukum kesiapsiagaaan (law of readiness).

Makhluk hidup (manusia dan hewan) memiliki kesiapan untuk membentuk hubungan-hubungan, jika makhluk hidup melakukanya akan mendapatkan kepuasaan dan jika tidak melakukannya akan merasa kecewa. Thorndike percaya bahwa kesiapsiagaaan merupakan satu kondisi penting untuk belajar, karena kepuasan atau kekecewaan tergantung pada keadaan kesiap siagaan seseorang. Dia menyatakan (1923; p.133)17 bahwa kesiapsiagaan seperti seorang petugas pengintai yang mengirim sinyal ke stasiun yang menjadi tujuan kereta untuk membuka palang pintu perlintasan. Sekolah tidak dapat memaksa siswa untuk belajar jika mereka tidak siap secara fisik dan psikologis. Mereka dapat belajar jika mereka sudah merasa siap.

2) Hukum latihan (Law of exercise)

Hukum ini menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon itu akan kuat apabila suatu kegiatan sering dilakukan atau semakin sering suatu perbuatan dilakukan maka semakin kuat hubungan antara stimulus dan respon, sebaliknya hubungan antara stimulus dan respon akan lemah apabila intensitas suatu perbuatan menurun. Hukum ini mendapat kritikan dari banyak orang bahwa hukum latihan semata tidak cukup untuk melakukan perbaikan, mesti juga ada kesadaran dari pelaku akibat yang dapat ditimbulkan dari suatu perbuatan. Suatu perbuatan akan tidak efektif jika dapat menimbulkan bahaya bagi pelakunya.

3) Hukum Pengaruh (Law of effect )

Hukum ini merupakan hukum yang paling penting dari hukum-hukum belajar Thorndike. Hukum effek menyatakan bahwa respon yang dibarengi oleh kepuasan akan terjadi hubungan yang lebih kuat antara stimulus dan respon, jika respon dibarengi oleh perasaan tidak menyenangkan maka hubungan antara stimulus dan respon akan melemah. Semakin tinggi tingkat kepuasan maka semakin kuat hubungan antara stimulus dan respon jika semakin besar perasaan yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan maka semakin lemah pula hubungan antara stimulus dan respon. Pada tahun 1932 Thorndike merevisi hukum yang menekankan bahwa penguatan effect reward (hadiah) lebih besar dari efek hukum (funishment) yang dapat melemahkan hubungan antara stimulus dan respon. Siswa cendrung belajar lebih efektif dan lebih mudah serta dapat bertahan belajar lebih lama jika memiliki akibat yang menyenangkan. Hergenhahn (1988) menyatakan bahwa Thorndike percaya pengajaran yang baik dimulai dengan pengetahuan yang ingin diajarkan oleh guru (stimulus). Anda juga harus mengidentifikasi respon-respon yang ingin ingin dikaitkan dengan stimulus, dan pemilihan waktu oleh pemuas yang tepat. Thorndike berkata maka pertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a) pertimbangkan lingkungan siswa.

b) pertimbangkan respon yang ingin anda ingin anda kaitkan dengannya.

c) bentuk hubungan (dengan memuaskan).

d. Pengkondisian Operant (Operant Conditioning)

Pengkondisian operan dipelopori oleh Skinner. Skinner mengembangkan suatu penjelasan mengenai belajar yang memberikan penekanan kepada konsekuensi prilaku. Apa yang akan terjadi setelah kita melakukan semua hal penting. Penguatan telah memberikan bukti menjadi alat yang kuat dalam membentuk dan mengendalikan prilaku baik di luar maupun di dalam kelas. Pengkondisian operan dinamakan juga pengkondisian instrumental adalah bentuk pembelajaran dimana konsekwensi-konsekwensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulang. Arsitek utama dari pengkondisian operan adalah B.F Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike. B.F.Skinner dalam karya-karyanya, the behavior of organisme (193820), science and human behaviour (195321), Verbal bahavior (195722), The technology of teaching (196823), Beyond freedom and dignity (197124) mengemukakan pendapatnya bahwa lingkungan (orang tua, guru, dan teman sebaya) memberikan reaksi terhadap prilaku kita baik dengan cara menguatkan atau menghapus prilaku tersebut. Lingkungan mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dalam belajar dan prilaku kita. Lingkungan memegang peranan kunci untuk memahami prilaku (Bales, 199025). Bagi Skinner prilaku adalah satu rangkain sebab musabab dari tiga mata rantai (1) suatu operasi yang dilakukan atau dilaksanakan terhadap organisme dari luar, misalnya: Seorang anak datang ke sekolah tanpa sarapan; (2) beberapa keadaan tersembunyi, misalnya: Dia merasa lapar; (3) sejenis tingkah laku, misalnya: dia nampak kelesuan di kelas. Guru semestinya tidak berspekulasi mengenai siswanya ketika dia tidak memiliki informasi yang cukup mengenai keadaan yang tersembunyi atau batiniah siswanya. Contoh: ketika guru melihat siswa hanya lesu dan tidak perhatian selama dalam kelas jangan diartikan sebagai bentuk tidak adanya perhatian siswa terhadap pelajaran yang sedang disampaikan guru.. Skinner akan mengejek orang-orang yang mengatakan bahwa anak itu tidak termotivasi. Skinner akan bertanya “Apakah maksudnya yang demikan itu?” “Bagaimana anda dapat menjelaskannya secara prilaku?”. Guru atau konselor menelusuri penyebab berhenti secara keliru pada mata rantai kedua yaitu beberapa keadaan batin (yang tersembunyi), seperti anak merasa lapar atau juga siswa mungkin memiliki kesulitan secara fisik atau masalah dengan orang tuanya.

Baca : Kreativitas dalam Kewirausahaan


C. Penutup 

1. Simpulan

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori behaviorisme dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Teori behavioristik cenderung mengarah peserta didik untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini belajar merupakan proses pembentukan (shaping), yaitu membawa peserta didik menuju atau mencapai target tertentu sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar.

2. Saran

Jika ingin menambah wawasan pembaca disarankan untuk melihat beberapa pendapat para ahli yang lebih lengkap mengenai teori belajar behaviorisme seperti yang diungkapkan oleh Thorndike, Pavlov, Watson, Skinner, dll.


DAFTAR RUJUKAN 

Budi Haryanto, Psikologi Pendidikan dan Pengenalan Teori-teori Belajar, Sidoarjo. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2004. hlm:63-65 dan 67-70

Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2011. hlm:44-45

Eni Fariyatul Fahyuni, Istikomah. Psikologi Belajar & Mengajar. Sidoarjo. Nizamia Learning Center. 2016. hlm:26- 27

Jamridafrizal, 2015. Teori Belajar Behaviorisme dan Implikasinya Dalam Praktek Pendidikan di https://www.researchgate.net/publication/289193100. (diakses pada 11 februari 2019).

Tomic, welco. Behaviorism and Cognitivism in Education. Netherlands: Open University.

Weegar, Mary Anne. A Comparison of Two Theories of Learning -- Behaviorism and Constructivism as applied to Face-to-Face and Online Learning. 2012. USA: National University.

Yudrik, Jahja. Psikologi Perkembangan. Jakarta. 2013. Kencana Prenamadia Group. hlm: 100-102

0 Response to "Teori Belajar dan Pembelajaran Behavioristik"

Post a Comment