PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Setiap manusia pasti memiliki kreativitas baik itu kreativitas dalam bidang seni ataupun keilmuan. Kreatifitas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi susah untuk diartikan, bahkan susah untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian bagi yang belum terbiasa dan yang masih terbelenggu dengan pikiran bahwa kreativitas itu harus menghasilkan ciptaan yang luar biasa hebat. Banyak orang mengatakan bahwa kreativitas itu suatu cara berfikir untuk keluar dari masalah hidup keseharian yang melingkupi dan membelitnya.
Kreatifitas berhubungan dengan pola pikir yang dapat menghubungan suatu masalah atau fenomena dengan unsur-unsur yang lain sehingga menjadi sesuatu yang baru. Bahkan kreativitas dapat diartikan sebagai pola pikir yang dapat menciptakan sesuatu yang baru, dalam belajar kreativitas berperan penting untuk membantu individu agar semakin maju dalam belajar dan menciptakan inovasi-inovasi baru agar belajarnya lebih mudah dipahami. Sedangkan, dalam pembelajaran kreatif berperan penting membantu guru dan yang lainnya untuk lebih memahami masalah siswa atau anak dalam belajar kemudian mengembangkan pembelajaran yang lebih baik dan kreatif agar anak atau siswa cepat menangkap sesuatu, memahami apa yang diberikan, mampu memecahkan persoalan, dan akhirnya sendiri dapat menjadi individu yang sangat kreatif. Pada prakteknya ternyata untuk menjadi seseorang yang kreatif sangatlah sulit. Hal ini dikarenakan adanya faktor penghambat baik dari dalam diri maupun luar diri. Untuk itu kita perlu mengenali hal tersebut, sehingga dampak yang menghambat kreativitas dapat diminimalisir.
Baca : Pembelajaran Microteaching
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kreativitas
Kreativitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar kreatif, yaitu memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Sedangkan, kreativitas sendiri memiliki arti kemampuan untuk menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru yang berbeda dari yang sebelumnya.
a) Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang unik (Santrock, 2007).
b) Campbell (dalam Manguhardjana, 1986) mengemukakan kreativitas sebagai suatu kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya :
a) Baru (novel), yang diartikan sebagai inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan.
b) Berguna (useful), yang diartikan sebagai lebih enak, lebih praktis, mempermudah, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik.
c) Dapat dimengerti (understandable), yang diartikan hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu, atau sebaliknya peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan dan tak dapat diulangi.
2.2 Teori-Teori Kreativitas
1. Teori Psikoanalisa
Psikoanalisa memandang kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa anak-anak. Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.
2. Teori Humanistik
Humanistik lebih menekankan kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi dan kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada usia lima tahun pertama. Menurut Abraham Maslow, menjelaskan bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu, diwujudkan sebagai hirarki kebutuhan manusia, dari yang terendah hingga yang tertinggi.
3. Teori Cziksentmihalyi
Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition). Contoh seseorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
a) Minat pada ranah tertentu:
Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas.
b) Akses terhadap suatu bidang:
Adanya sarana dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati sangat membantu pengembangan bakat.
c) Access to a field:
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat, tokoh-tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam bidang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan.
2.3 Tahap-Tahap Kreativitas
Wallas (1926) dan Haefele (1962) dalam Munandar, 2009 mengemukakan ada empat tahapan dalam proses kreativitas yang harus dijalani yaitu:
1. Tahap Persiapan
Persiapan dalam kreativitas caranya adalah dengan melakukan interaksi dengan sesama manusia, mencatat segala seuatu yang ditemui, dan membaca yang bertujuan untuk mengumpulkan fakta, ide dan opini.Setelah informasi dikumpulkan dilakukan pengaturan sehingga dapat terbentuk buah fikir baru dari akibat pemikiran.
2. Tahap Inkubasi
Tahap istirahat merupakan masa penyimpanan informasi dan merenungkannya. Alam bawah sadar mengolah dan mengambil alih informasi, mengembangkannya dengan mengaitkannya pada berbagai ide, termasuk menjajarkan, menggabungkan, menyortir atau memilah, membayangkan dan mengitari /mempersempit atau mencari intisari dari sebuah ide.
3. Tahap Pencerahan
Tahap pencerahan ialah saat inspirasi sebuah gagasan baru muncul dalam pikiran seakan-akan dari ketiadaan muncul jawaban baru yang dirasa sangat tepat. Sangat dipentingkan sikap santai untuk mendorong tahap inkubasi dan pencerahan.
4. Tahap Pelaksanaan
Tahap menghimpun data, dimulai dengan merencanakan suatu kegiatan sampai dengan menguji gagasan tersebut. Ada yang berhasil dengan sangat cepat, ada yang sangat lambat bahkan memakan waktu bertahun-tahun bahkan ada juga yang tidak berhasil. Pada tahap ini, terjadi penyempurnaan ataupun pengujian terhadap ide yang baru sehingga dapat dilaksanakan.
2.4 Ciri – ciri Kreativitas
Menurut Guilford (1963) dalam Munandar, 2009 ciri-ciri pada orang-orang kreatif adalah:
1. Fluency: kesiapan, kelncaran, kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan.
2. Fleksibilitas: kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan.
3. Originalitas: kemampuan untuk mencetuskan gagasan-gagasan asli.
4. Elaborasi: kemampuan untuk melakukan hal-hal secara detail terperinci.
5. Redefenition: kemampuan untuk merumuskan batsan-batasan dengan melihat dari sudut lain daripada cara-cara yang lain.
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Setiap orang memiliki potensi kreatif dalam derajat yang berbeda-beda. Potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu perlu kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri. Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk daya kreatif individu, dalam hal ini mencakup baik lingkungan dalam arti sempit (keluarga, sekolah) maupun dalam arti kata luas (masyarakat, kebudayaan). Faktor yang mempengaruhi kreatifitas yaitu :
1. Faktor Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga yang harmonis dan demokratis mendorong anak untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan dan hambatan.
2. Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga. Suasana, kondisi sekolah sangat menentukan kreatifitas berkembang.
3. Faktor Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat bersifat heterogen dan kultur yang berbeda, lingkungan yang tidak kondusif mengakibatkan anak tidak berkembang kreatifitasnya.
4. Faktor lain yang mendorong kreatifitas adalah:
a. Jenis Kelamin
Jenis kelamin akan berpengaruh terhadap kreatifitas. Anak laki-laki cenderung lebih besar kreatifitasnya daripada anak perempuan, terutama setelah masa kanak-kanak. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki dituntut untuk lebih mandiri, sehingga anak laki-laki biasanya lebih berani mengambil resiko disbanding anak perempuan.
b. Urutan kelahiran
Anak sulung, anak tengah dan anak bungsu akan berbeda tingkat kreatifitasnya. anak yang lahir ditengah, belakang, dan anak tunggal cenderung lebih kreatif daripada anak yang lahir pertama. Hal ini terjadi karena biasanya anak sulung lebih ditekan untuk lebih menyesuaikan diri oleh orangtua sehingga anak lebih penurut dan kreatifitasnya mati.
c. Intelegensi
Anak yang intelegensinya tinggi pada setiap tahapan perkembangan cenderung menunjukan tingkah kreatifitas yang tinggi dibandingkan anak yang intelegensinya rendah. Anak yang pandai lebih banyak mempunyai gagasan baru untuk menyelesaikan konflik social dan mampu merumuskan penyelesaian konflik tersebut.
d. Tingkat pendidikan orangtua
Anak yang orangtuanya berpendidikan tinggi cenderung lebih kreatif dibandingkan pendidikannya rendah. Hal ini disebabkan karena banyaknya prasarana serta tingginya dorongan dari orangtua sehingga memupuk anak-anak untuk menampilkan daya inisiatif dan kreatifitas dan kreatifitasnya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kreatifitas tumbuh dan berkembang karena faktor internal dan faktor eksternal.
2.6 Kendala dalam pengembangan kreativitas
Dalam mengembangkan dan mewujudkan potensi kreatifnya, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan, kendala, atau rintangan.
Shallcross (2011) mengolongkan kendala atau rintangan dalam menggunakan potensi kreatif ke dalam:
1. Kendala historis
Ditinjau secara historis ada kurun waktu tertentu yang merupakan puncak kejayaan kreativitas dan sebaliknya pula ada kurun waktu tertentu yang tidak menunjang bahkan menghambat pengembangan kreativitas perorang maupun kelompok.
2. Kendala biologis
Beberapa pakar menekankan bahwa kemampuan kreatif merupakan ciri herediter, sementara pakar lainnya percaya bahwa lingkungan menjadi faktor penentu utama.
3. Kendala fisiologis
Seseorang yang mengalami kendala fisik karena terjadi kerusakan otak yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan maupun mereka yang memiliki keterbatasan fisik dapat menghambat untuk mengungkapkan kreativitasnya.
Baca : Teknologi Pendidikan
4. Kendala sosiologis
Lingkungan sosial merupakan faktor utama yang menentukan kemampuan kita dalam pengembangan kreatif. Bila tidak diarahkan dan didukung maka hasilnya tidak akan baik.
5. Kendala psikologis
Hal ini dikarenakan hampir semua orang telah membentuk persepsi diri bahwa diri mereka tidaklah kreatif. Keyakinan sepert ini yang membuat mereka susah dan tidak berkembang dari segi kreativitas.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru yang berbeda dari yang sebelumnya. Kreativitas dapat ditinjau dari berbagai macam teori yaitu teori psikoanalisa, teori humanistik dan teori Cziksentmihalyi. Dalam kreativitas ada empat macam tahapan yang harus dijalani yaitu tahapan persiapan, tahapan inkubasi, tahapan pencerahan, dan tahapan pelaksanaan atau pembuktian. Orang-orang yang memiliki kreativitas tentu memiliki ciri-ciri khusus seperti kemampuan bekerja keras, berpikir mandiri, pantang menyerah dan masih banyak lagi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi daya kreativitas seseorang baik dari dalam maupun dari luar. Untuk mengembangkan kreativitas aa teknik-teknik tertentu yang harus dilakukan. Dalam mengembangkan kreativitas tentu saja ada kendala-kendala yang dapat membuat kreativitas seseorang dapat terhambat. Untuk itu kita perlu mengenali hal-hal tersebut sehingga kita dapat mengantisipasi agar kreativitas kita tidak terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Tuhana Tufiq. 2013. Cara Cerdas Melejitkan IQ Kreatif Anak. Jogjakarta: Kata Hati
Campbell, David. Tanpa Tahun. Mengembangkan Kreativitas. Disadur oleh A. M. Mangunhardjana, 1986. Kanisius: Yogyakarta.
John W. Santrock (2007). Perkembangan Anak. Jilid 1 Edisi kesebelas. Jakarta : PT. Erlangga.
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Shallcross, A.J., (2011). Don’t hide your happiness! Positive emotion dissociation, social connectedness and psychological functioning. Journal of Personality and Social Psychology. Vol.100(4). p.738-748. DOI: 10.1037/a0022410

0 Response to "Kreativitas dalam Kewirausahaan"
Post a Comment